Dukung Ketahanan Pangan, Kecamatan Sikur Sulap Halaman Jadi Kebun Cabai

PorosLombok.com Pemerintah Kecamatan Sikur, Lombok Timur, bergerak cepat mendukung program ketahanan pangan yang dicanangkan Bupati. Tak perlu lahan luas—halaman kantor pun mereka sulap jadi kebun cabai.

Kasi Kesra Mukarrohman mewakili Camat Sikur menegaskan, selama ini banyak pekarangan rumah warga dan instansi hanya jadi lahan kosong tanpa manfaat. Padahal, potensi pekarangan sangat besar jika dimanfaatkan secara maksimal.

“Faktanya di masyarakat kita, pekarangan itu tidak terlalu termanfaatkan dengan baik. Hanya sekadar halaman kosong,” ujarnya, Kamis (5/6).

Berangkat dari kondisi itu, pihaknya membangun Grand House sebagai media tanam. Langkah ini dilakukan atas instruksi Bupati, yang mendorong pemanfaatan pekarangan untuk mendukung program ketahanan pangan.

“Kita atas instruksi Pak Bupati, menjadikannya sebagai bentuk program ketahanan pangan melalui pemberdayaan pekarangan,” jelas Mukarrohman.

Ia menambahkan, hasil dari kebun mini ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan staf kecamatan. Dengan begitu, para pegawai tak perlu lagi membeli kebutuhan dapur seperti cabai dan tomat.

“Hasilnya akan diberikan untuk kebutuhan para staf kecamatan. Karena niat awalnya memang untuk memenuhi kebutuhan internal,” tegasnya.

Jika hasil panen melebihi kebutuhan, pihaknya siap membuka opsi untuk menjual ke pasar. Namun, fokus utama tetap pada pemenuhan konsumsi internal.

“Kalau pun ada kelebihan produksi, kenapa tidak? Bisa kita komersialkan,” sambungnya.

Dengan luas lahan sekitar satu are, kebun tersebut diperkirakan cukup untuk menopang kebutuhan dapur bagi sekitar 20 orang staf yang bekerja di kantor kecamatan. Jumlah itu belum termasuk pegawai dari UPT Dukcapil dan lembaga lainnya yang berada di bawah koordinasi kecamatan.

“Saya rasa untuk internal saja. Minimal mereka tidak beli,” katanya.

Tanaman cabai menjadi komoditas wajib dalam proyek ini. Selain cabai, mereka juga menanam tomat, terong, bawang, hingga jahe, agar pekarangan terlihat lebih hidup dan bervariasi.

“Sesuai instruksi Pak Bupati, tanaman wajibnya cabai. Tapi ada juga tomat, terong, bawang, jahe. Jadi tamannya campur,” ujarnya.

Mukarrohman mengaku belum bisa memastikan berapa hasil panennya nanti. Namun, menurutnya, nilai estetika juga penting, apalagi tanaman ini berada di halaman kantor.

“Yang penting ada cabai. Selebihnya kreasi kita supaya enak dipandang. Namanya juga di halaman, jadi tidak boleh hilangkan estetika dan keindahannya,” tutupnya.

(arul/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU