Saya Gendong Ibu, Mobil Kami Dibawa Banjir, Duka Satu Keluarga di Tepi Sungai Bertais

(PorosLombok.com ) — Hujan deras yang mengguyur Kota Mataram pada Minggu (6/7) siang telah merenggut banyak hal dari Mardiansyah: ketenangan, rumah, dan sebuah mobil yang selama ini menjadi penopang hidup keluarganya.

Rumah itu berdiri di Lingkungan Bertais Daya, Kelurahan Bertais, Kecamatan Sandubaya. Letaknya persis di tepian sungai. Dari sana, ia tumbuh, membangun keluarga, dan menjaga kedua orang tuanya. Tapi siang itu, semua terasa seperti mimpi buruk yang datang tiba-tiba.

“Biasanya sungai ini kalau hujan satu dua hari, ya, cuma meluap ke halaman saja. Kami sudah biasa. Tapi kemarin itu… air datang dari semua arah. Timur, selatan, utara… semua mengarah ke rumah kami,” ujar Mardiansyah, Senin (7/7), menahan napas panjang.

Ia masih ingat betul, ketika jam menunjukkan pukul dua siang, air sungai mulai naik perlahan. Ia sempat membersihkan celah-celah aliran di sekitar rumah, berharap air bisa cepat keluar.

Namun harapan itu justru berbalik menjadi malapetaka. Jembatan kecil yang ada di dekat rumah meledak—hancur diterjang arus yang begitu deras.

“Saya kaget. Ledakannya keras. Tiba-tiba saja, air meluncur deras, menghantam gerbang rumah. Gerbangnya langsung macet. Mobil saya tidak bisa keluar,” ucapnya lirih.

Di tengah kekacauan itu, Mardiansyah bergegas menyelamatkan yang paling berharga: ibunya. Ia menggendong perempuan yang melahirkannya itu, lalu membawa sang ibu ke rumah tetangga. Tak lupa, ia juga mengevakuasi keponakan dan adiknya.

“Saat itu saya cuma mikir: nyawa dulu, yang penting selamat,” tuturnya pelan.

Ia sempat meminta bantuan pemuda-pemuda yang melintas untuk membuka gerbang. Tapi air terlalu kuat, dan akses keluar benar-benar tertutup. Tak banyak yang bisa dilakukan.

Di tengah ketidakberdayaan itu, mereka hanya bisa berdoa—semoga air segera surut, semoga tidak bertambah tinggi.

Namun kenyataan tak sebaik harapan. Air justru semakin naik. Tekanannya makin kuat. Satu per satu bagian rumah mulai retak dan lepas dari pondasinya. Hingga akhirnya, mobil jenis Kijang milik keluarga itu ikut terbawa arus.

“Mobil saya hanyut. Hanyut begitu saja… kami hanya bisa melihat,” ucap Mardiansyah, suaranya nyaris tenggelam di antara sisa trauma yang belum reda.

Kerugian yang dialami keluarganya belum bisa dihitung pasti. Namun, ia memperkirakan talut di belakang rumah jebol sepanjang 20 meter, dengan tinggi mencapai 5 meter. Gerbang rumah pun lenyap disapu banjir.

Meski demikian, Mardiansyah masih bersyukur. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Semua anggota keluarganya selamat.

“Airnya muter dari segala arah. Utara, selatan, semua menghantam rumah. Tapi Alhamdulillah kami masih diberi kesempatan hidup,” katanya.

Kini, ia hanya bisa berharap. Harapan yang sederhana, namun menyimpan harapan banyak keluarga lain di wilayah serupa: pemerintah turun tangan.

“Drainase di sini tolong diperbaiki. Volume air sekarang sudah tidak bisa ditampung saluran lama. Kalau dibiarkan, bisa lebih parah,” ujar Mardiansyah.

(arul/porosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU