(PorosLombok.com) – Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur HM Juaini Taofik meyakini bahwa visi besar NTB Makmur dan Mendunia bukan sekadar slogan belaka.
Hal itu disampaikan Juaini saat membuka event budaya Bejango di Desa Anjani, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur, Jumat (18/7).
“Dengan semangat NTB Makmur Mendunia, saya yakin ini bukan sekadar mimpi,” tegasnya.
Juaini mengapresiasi semangat warga Anjani yang dinilainya berhasil menjadikan kearifan lokal sebagai kekuatan pariwisata.
Menurut dia, geliat desa wisata sedang berlangsung di berbagai titik di Lombok Timur.
“Semua desa wisata di Lotim sedang ramai-ramainya,” katanya.
Juaini mencontohkan Desa Tetebatu yang mencatat rata-rata lebih dari 300 kunjungan wisatawan setiap hari. Desa lain seperti Kembang Kuning juga dinilai sudah mandiri secara ekonomi.
“Ini membuktikan desa wisata bisa menjadi lokomotif ekonomi lokal,” ujarnya.
Dia menekankan bahwa pengembangan wisata di Lotim harus mengusung konsep eco-tourism atau pariwisata berbasis lingkungan dan berkelanjutan.
“Pariwisata harus berbasis lingkungan dan berkelanjutan,” katanya lagi.
Juaini juga mengapresiasi peran aparat keamanan dalam menjaga kenyamanan dan keselamatan wisatawan.
“Pak Kapolres dan jajaran selalu siaga. Ini jadi modal utama dalam membangun kepercayaan wisatawan,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur NTB Dr. Lalu Muhamad Iqbal menyambut baik penyelenggaraan Bejango yang dinilainya sebagai bentuk pelestarian budaya yang produktif.
“Fondasi desa wisata yang memiliki karakter kemandirian secara ekonomi,” kata Gubernur.
Dia menegaskan bahwa desa wisata di NTB, termasuk di Lombok Timur, memiliki kekayaan budaya yang bisa menjadi daya saing utama sektor pariwisata.
“Ada Tetebatu, ada Kembang Kuning, dan banyak lainnya. Semua sudah mandiri secara ekonomi,” ujarnya.
Iqbal juga memaparkan program Desa Berdaya yang sedang dikembangkan Pemprov NTB. Program ini terbagi dua kategori, yaitu Desa Berdaya dan Desa Berdaya Transformatif.
“Desa Berdaya membantu yang sudah maju maupun belum. Yang transformatif untuk desa dengan kemiskinan ekstrem,” jelasnya.
Program ini digerakkan secara kolaboratif oleh pemerintah provinsi, kabupaten/kota, LSM, hingga CSR perusahaan.
“Kita ingin 106 desa dengan kategori kemiskinan ekstrem di NTB tuntas pada 2029, dan angka kemiskinan turun di bawah 10 persen,” tegas Iqbal.
Menurutnya, semangat kolaborasi yang terlihat dalam Bejango merupakan kunci untuk mempercepat transformasi desa.
“Tidak ada persoalan yang bisa diselesaikan sendirian. Tapi kalau dikeroyok bareng-bareng, semuanya bisa,” tandasnya.
(arul/PorosLombok)


















