(PorosLombok.com) –Eskalasi amuk massa aktivis mahasiswa di Kantor Bupati Lombok Timur (Lotim) pecah. Meski langit tumpah ruah oleh hujan lebat, nyali demonstran dari berbagai elemen organisasi tidak surut sejengkal pun untuk menyerbu pusat pemerintahan, Kamis (22/1/2026).
Gelombang unjuk rasa jilid dua ini jauh lebih besar dibanding aksi sehari sebelumnya. Massa yang merangsek masuk sejak pagi tidak lantas percaya begitu saja saat petugas keamanan menyebut Bupati H. Haerul Warisin sedang tidak berada di tempat.
”Kami butuh keputusan konkret dari pucuk pimpinan, bukan sekadar janji bawahan,” tegas Abdul Kodir, koordinator lapangan aksi di tengah kepungan barikade petugas.
Suasana kian mencekam ketika perwakilan aktivis memaksa masuk ke dalam gedung untuk melakukan pembuktian. Didampingi personel Polri dan Satpol PP, mereka menyisir setiap lantai, mulai dari tingkat empat hingga menuju ruang kerja pribadi sang bupati di lantai dasar.
Pengecekan mendetail tersebut dilakukan guna memastikan transparansi dan menghentikan sumbatan komunikasi. Setelah memeriksa setiap sudut ruangan VIP itu, massa baru memercayai bahwa pejabat yang akrab disapa Haji Iron tersebut memang sedang absen.
Namun, situasi memanas kembali saat kelompok di luar mencoba menerobos area teras kantor yang dijaga ketat berlapis. Konfrontasi fisik tak terelakkan hingga mengakibatkan dua orang peserta aksi mengalami luka robek di wajah dan seorang mahasiswa dilaporkan patah gigi.
Kemarahan ini dipicu oleh carut-marut tata kelola destinasi pariwisata seperti Bale Mangrove dan Sunrise Land. Massa mencium aroma intervensi oknum pejabat yang diduga memaksakan kepentingan tim sukses untuk menguasai objek wisata unggulan milik masyarakat.
Mereka khawatir jika sektor pelesiran dikelola secara amatiran oleh pihak tidak kompeten, maka ekosistem ekonomi kreatif daerah akan hancur. Selain itu, mahasiswa fakultas pariwisata terancam sulit mengakses data penelitian apabila birokrasi di dalamnya sudah amburadul dan dipolitisasi.
Setelah tensi perlahan mendingin seiring redanya hujan, massa akhirnya bersedia ditemui oleh Asisten II Setdakab Lotim, Muhammad Hairi, bersama Kepala Bakesbangpol, H. Mustafa. Kedua pejabat tersebut diutus langsung untuk meredam kemarahan mahasiswa yang kian beringas.
Seluruh poin tuntutan akhirnya diserahkan secara resmi untuk segera ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Aktivis mengancam akan membawa persoalan ini ke ranah hukum jika praktik titipan oknum pejabat di sektor pariwisata tidak segera dihentikan.
(Redaksi/PorosLombok)

















Kalau benar seperti itu,sudah sangat keterlaluan demonya,,kami dulu demo tdk begini amat,sampai geledah ruangan,,
Beda medan dan zaman bung