Lombok Timur – Dunia pendidikan di Kabupaten Lombok Timur kembali guncang. Seorang murid kelas 1 berinisial MHA (7) kini terbaring lemah. Ia diduga menjadi korban kekerasan fisik rekan sekolahnya di SDN 1 Pringgabaya.
”Kondisi anak saya sangat memprihatinkan. Lukanya parah hingga puskesmas tidak sanggup merawat. Kami harus merujuknya ke RSUD Selong,” ungkap Supriadi, ayah kandung korban, Selasa (3/2/2026).
Keluarga awalnya tidak menyangka MHA menjadi sasaran kekerasan. Korban mulai mengeluhkan demam tinggi sejak Rabu (28/1). Supriadi mengira putranya hanya menderita sakit biasa pada saat itu.
Namun, kondisi fisik MHA kian merosot setelah dua hari berselang. Panas tubuhnya terus melonjak tinggi. Selain itu, bocah malang ini juga mendadak sulit untuk melangkah.
”Karena demamnya semakin tinggi dan dia tidak bisa berjalan, saya membawanya ke Puskesmas,” jelas Supriadi.
Tenaga medis puskesmas menemukan fakta mengejutkan saat memeriksa fisik korban. Mereka melihat banyak luka lebam pada tubuh MHA. Selain itu, ada indikasi patah tulang pada bagian kakinya.
Temuan medis tersebut mendorong Supriadi untuk bertanya langsung kepada sang anak. Ia ingin tahu penyebab luka tidak wajar itu. Akhirnya, MHA menceritakan kejadian pahit yang ia alami di sekolah.
”Anak saya mengaku telah dipukul oleh temannya. Dia juga mendapatkan tendangan saat berada di lingkungan sekolah,” tutur Supriadi dengan nada lirih.
Karena lukanya serius, Puskesmas Batu Yang merujuk MHA ke rumah sakit. Kini, tim medis ruang bedah RSUD dr. Raden Soedjono Selong menangani korban secara intensif. Hasil rontgen mengungkap adanya trauma berat pada lutut korban.
”Diagnosa sementara menunjukkan infeksi selulitis dan trauma lutut. Korban juga mengeluhkan sesak napas,” ujar seorang petugas medis di RSUD Selong.
Langkah Tegas Dinas Pendidikan
Tim dokter menduga ada patah tulang tertutup pada lutut kiri korban. Hal ini terlihat dari pembengkakan hebat di area tersebut. Namun, dokter masih perlu melakukan pemeriksaan lanjutan secara mendetail.
”Kami harus memastikan apakah ada retakan tulang. Saat ini bengkaknya masih sangat parah,” tambah petugas medis tersebut.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur memberikan perhatian serius pada kasus ini. Kepala Dikbud, Nurul Wathoni, mengaku terkejut mendengar kabar perundungan tersebut. Ia pun berjanji segera melakukan tindakan nyata.
”Kami akan segera mengecek sekolah yang bersangkutan. Pihak dinas akan menindaklanjuti kasus ini secepat mungkin,” tegas Nurul Wathoni














