Lombok Timur, Poros Lombok – DPC PDI Perjuangan Lombok Timur resmi menggelar agenda Musyawarah Anak Cabang besar-besaran di Gedung Wanita Selong. Forum ini menjadi ruang refleksi sejarah bagi seluruh kader, Sabtu (14/2/2026).
Ketua DPD PDI Perjuangan NTB, H Rachmat Hidayat, membuka langsung rangkaian acara sakral yang diawali dengan kirab panji kebesaran partai tersebut. Suasana ideologis sangat kental saat peserta menyimak naskah Dedication of Life.
”Semangat yang berkobar hari ini harus menjadi energi positif untuk menggerakkan seluruh mesin partai hingga ke tingkat dusun,” tegasnya.
Sebanyak 777 utusan fungsionaris PAC hingga ranting tampak memadati area utama gedung guna memastikan kesiapan struktur. Kehadiran penuh para kader militan ini menjadi sinyal bahwa kekuatan organisasi tetap sangat solid.
”Struktur yang kuat di akar rumput adalah kunci utama bagi kemenangan kita dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat kecil,” ujarnya.
Ketua DPC PDI Perjuangan Lombok Timur, Ahmad Sukro, menekankan bahwa momentum musyawarah ini merupakan titik balik fungsionaris untuk introspeksi. Pihaknya mengajak semua elemen berani jujur memperbaiki kualitas kepengurusan internal.
”Kita tidak ingin bendera PDI Perjuangan hanya sekadar berkibar tanpa memberikan dampak nyata atau dianggap tidak ada,” katanya.
Lombok Timur memiliki posisi strategis dan nilai historis yang sangat vital dalam peta perjalanan politik banteng di NTB. Sukro mengingatkan agar seluruh kader tidak mempermalukan perjuangan pendahulu yang telah membangun fondasi kuat.
”Sejarah besar partai ini dibangun dengan keringat dan air mata di daerah ini, maka kita wajib menjaga kehormatan tersebut,” tuturnya.
Refleksi Perlawanan Masa Orde Baru
Suasana di dalam aula menjadi semakin emosional saat sosok kharismatik Rachmat Hidayat menghadirkan sejumlah pejuang senior era 1980-an. Kehadiran para veteran tersebut menjadi pengingat nyata mengenai nilai militansi melawan rezim otoriter.
”Para orang tua kita ini adalah saksi hidup betapa beratnya mempertahankan ideologi di tengah gempuran kekuasaan yang zalim,” jelasnya.
Anggota DPR RI empat periode tersebut mengenang masa kejayaan saat banteng Lombok Timur berhasil mengamankan enam kursi parlemen. Rachmat menceritakan bagaimana hak partai menduduki pimpinan DPRD pernah dirampas sepihak oleh penguasa saat itu.
”Meskipun kita didzalimi oleh penguasa, semangat perlawanan kader justru semakin membara untuk terus menyuarakan kebenaran demi rakyat,” ungkapnya.
Fraksi PDI Perjuangan kala itu konsisten menyatakan nota keberatan terhadap setiap kebijakan pemerintah yang mencederai rasa keadilan. Keberanian para pejuang masa lalu merupakan fondasi kokoh bagi pelindung kaum marhaen di seluruh pelosok.
”Nilai keberanian yang diwariskan oleh para pendahulu harus menjadi pedoman utama bagi seluruh kader muda saat ini,” tegasnya.
Politisi senior tersebut meminta kepada seluruh kader masa kini untuk meneladani sifat militansi serta kesetiaan tanpa batas pendahulu. Rachmat menekankan partai besar tidak boleh lepas dari sejarah sebagai kompas penentu kemenangan.
”Kita pernah membuktikan bisa meraih enam kursi di tengah tekanan hebat, maka sekarang kita harus kembali berjaya,” serunya.
Rachmat mengingatkan dengan suara bergetar bahwa kejayaan masa lalu wajib dikonversi menjadi bahan bakar semangat juang baru. Beliau meyakini kunci kebangkitan partai terletak pada konsistensi kader untuk turun langsung membantu rakyat.
”Partai ini akan tetap hidup dan dicintai jika para kadernya memiliki kemauan untuk terus berada di tengah rakyat,” ujarnya.
Target Regenerasi dan Estafet Kepemimpinan
Rachmat meminta seluruh jajaran pengurus untuk berdiri guna dilakukan pengecekan atau absen satu per satu sebagai verifikasi fisik. Hal ini guna memastikan mesin partai di tingkat desa benar-benar siap menghadapi tantangan politik kompleks.
”Kesiapan struktur adalah hal yang mutlak karena kita tidak bisa berjuang sendirian tanpa dukungan mesin yang sistematis,” tegasnya.
ia menyoroti peran strategis generasi muda yang cerdas dan kritis sebagai tumpuan utama menyongsong kontestasi politik tahun 2029. PDI Perjuangan harus melakukan pendekatan persuasif kepada anak muda agar organisasi tidak tertinggal zaman.
”Zaman sekarang adalah eranya anak muda yang melek teknologi, sehingga kita harus mampu merangkul mereka dengan cara relevan,” katanya.
Sosok yang memimpin PDIP NTB sejak tahun 2000 ini memberikan pernyataan mengejutkan mengenai masa tugasnya yang segera berakhir. Rachmat memberi sinyal kuat bahwa kepemimpinan periode ini adalah yang terakhir bagi dirinya di NTB.
”Saya ingin memastikan sebelum masa jabatan berakhir, seluruh infrastruktur partai di tingkat bawah sudah dalam kondisi prima,” jelasnya.
Langkah strategis tersebut diambil untuk menjamin pengurus PAC maupun ranting aktif bergerak melaksanakan instruksi partai secara konsisten. Beliau ingin mewariskan organisasi yang sehat, solid, dan militan bagi para pemimpin masa depan.
”Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mampu menyiapkan calon pengganti yang jauh lebih hebat daripada generasi sebelumnya,” ungkapnya.
Menjaga Kedekatan dengan Rakyat
Rachmat mengaku sangat bangga melihat komposisi peserta Musancab di Lombok Timur yang didominasi oleh wajah-wajah kader muda potensial. Hal tersebut menjadi indikator positif bahwa proses kaderisasi di tubuh internal banteng berjalan baik.
”Melihat antusiasme para pemuda ini, saya semakin yakin bahwa masa depan partai akan berada di tangan yang tepat,” tuturnya.
Proses penempaan kader muda wajib diuji melalui kerja keras secara konsisten di tengah pemukiman warga untuk membantu rakyat. Kader harus menempel pada rakyat agar kehadiran partai benar-benar menjadi solusi nyata bagi masyarakat bawah.
”Kekuatan kita bukan pada logistik yang melimpah, melainkan pada seberapa erat ikatan emosional dengan masyarakat kecil,” katanya.
Upaya menghadirkan para pejuang senior merupakan langkah konkret untuk mengikat memori kolektif agar visi partai tidak tercerabut. Tanpa fondasi sejarah, regenerasi kepemimpinan dikhawatirkan hanya menjadi sekadar pergantian usia fungsionaris.
”Sejarah adalah kompas kita, maka jangan pernah meninggalkan jejak perjuangan yang telah diukir para senior dengan pengorbanan,” pungkasnya.
(poros Lombok)















