Pedagang Mataram Siasati Lonjakan Harga Cabai Rawit Rp 140 Ribu

Harga cabai rawit di Mataram tembus Rp 140 ribu/kg. Warga kini siasati kenaikan pangan jelang Ramadan dengan beli eceran demi hemat uang belanja.

Mataram, Poros Lombok – Para pedagang di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, memutar otak akibat kenaikan harga pangan pada Senin (16/2/2026). Komoditas cabai rawit kini menyentuh angka Rp 140.000 per kilogram sehingga memaksa penjual mengubah strategi pemasaran mereka.

​”Kami membagi stok menjadi bungkusan kecil agar tetap terjangkau oleh pembeli yang memiliki modal terbatas,” ujar Nurma, seorang pedagang bumbu dapur.

​Langkah ini menjadi pilihan utama karena daya beli masyarakat menurun drastis menjelang bulan suci Ramadan pertengahan Februari ini. Pantauan di Pasar Pagesangan menunjukkan banyak lapak masih memiliki stok melimpah karena transaksi jual beli harian kian sepi.

​Nurma menjelaskan bahwa menjual dalam ukuran timbangan besar saat ini sangat berisiko bagi kelangsungan usahanya. Ia mengkhawatirkan cabai akan membusuk di lapak jika tidak segera berpindah ke tangan konsumen yang kini semakin selektif.

​”Sebagian besar pelanggan sekarang hanya berani membeli dalam porsi eceran senilai lima ribu rupiah saja,” jelasnya.

​Situasi serupa merembet pada komoditas bawang merah yang harganya naik menjadi Rp 45.000 per kilogram hari ini. Marlina, rekan sesama penjual, mengakui bahwa modal untuk kulakan kini melonjak hampir dua kali lipat dari biasanya.

​”Bawang putih pun tidak mau kalah karena harganya merangkak naik ke posisi 40 ribu rupiah,” ujarnya.

​Marlina sengaja mengurangi stok belanjaan dari distributor untuk menghindari kerugian besar jika harga tiba-tiba jatuh kembali. Ketidakpastian harga di tingkat pengepul membuat para pedagang pasar tradisional harus ekstra waspada dalam mengelola arus kas harian.

​Kekhawatiran ini kian memuncak karena masyarakat memprediksi permintaan pasar akan terus meningkat hingga memasuki hari raya nanti. Pedagang mengharapkan pasokan barang dari petani lokal tetap lancar guna menekan angka jual yang kian tidak masuk akal.

​”Harapan kami adalah harga segera stabil agar perputaran modal pedagang kecil kembali normal,” tuturnya.

(Poros Lombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU