Oleh: Lalu Riki Wijaya, SH., MH
Ketua Ikatan Pelajar Sasak
Rabu (18/03/2026)
—————-
PorosLombok.com (OPINI) – Dalam bentang sejarah Nusantara, perjumpaan antar peradaban bukanlah hal asing, melainkan sebuah keniscayaan yang membentuk identitas bangsa. Fenomena kalender yang mempertemukan Idul Fitri dan Nyepi tahun ini merupakan realitas sosial yang sarat makna.
Peristiwa ini melampaui sekadar perhitungan astronomis, karena hadir sebagai ruang pembelajaran kolektif bagi seluruh elemen masyarakat untuk merenungkan hakikat keberagaman. Keberagaman harus dipandang sebagai napas utama kehidupan berbangsa kita.
Bagi masyarakat Sasak di NTB, perjumpaan dua hari besar ini menjadi panggung ujian sekaligus pembuktian atas ketangguhan sosial dalam merawat harmoni. Kehidupan bersama bukan sekadar slogan, melainkan ikhtiar luhur meneguhkan toleransi beragama.
Di sini, perjumpaan tersebut dipandang sebagai kesempatan emas untuk membuktikan bahwa perbedaan keyakinan dapat berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan. Kita diajak untuk menunjukkan kebijaksanaan dalam setiap interaksi sosial di lapangan.
Hari Raya Idul Fitri atau Jelo Lebaran dipahami sebagai puncak penyucian diri setelah sebulan penuh menjalani pengendalian diri di bulan puase. Ia adalah momentum kembali ke fitrah, menekankan nilai keikhlasan dan penguatan persaudaraan manusia.
Di sisi lain, Hari Raya Nyepi merupakan saat sakral bagi umat Hindu untuk melakukan introspeksi batin dan menjaga keseimbangan kosmik antara manusia dengan alam. Meski rupa praktiknya berbeda, keduanya bermuara pada nilai perdamaian dan keselarasan.
Ikatan Pelajar Sasak memandang bahwa fenomena ini harus disikapi dengan kedewasaan berpikir yang berlandaskan pada nilai-nilai keislaman serta kearifan lokal. Landasan etis sangat krusial agar masyarakat tidak terjebak dalam sentimen yang dangkal.
Sebagaimana ajaran suci yang menekankan kebebasan menjalankan keyakinan tanpa intervensi, prinsip tersebut harus menjadi fondasi utama relasi antarumat. Kita harus membangun sikap saling menghormati batas-batas privat dalam menjalankan ibadah mereka.
Keberagaman adalah anugerah yang meniscayakan adanya sikap saling menghormati hak setiap pemeluk agama. Oleh karena itu, penghormatan setinggi-tingginya harus diberikan kepada umat Islam yang merayakan kemenangan dan umat Hindu dalam keheningannya.
Pengakuan ini bukan sekadar basa-basi sosial, melainkan wujud nyata penghormatan terhadap martabat kemanusiaan yang melekat pada setiap individu. Kita harus menyadari bahwa di balik perbedaan ritual, terdapat kesamaan hak asasi yang harus dilindungi.
Dalam konteks sosial yang lebih luas, keterlibatan generasi muda dan pelajar menjadi kunci utama menjaga keberlangsungan toleransi ini di masa depan. Pemuda tidak boleh menjadi penonton, melainkan aktor penggerak dalam memperkuat sikap saling menghargai.
Momentum perayaan yang beriringan ini menjadi laboratorium hidup bagi para pelajar untuk mempraktikkan teori keberagaman secara nyata. Pelajar harus mampu menerjemahkan nilai-nilai toleransi ke dalam aksi konkret yang menyejukkan lingkungan sekitarnya.
Komitmen menjaga ketertiban bukan hanya tanggung jawab aparat, melainkan mandat kolektif yang dipikul setiap individu. Ketika umat Islam bersukacita dan umat Hindu merenung dalam sepi, di sanalah letak ujian kedewasaan kita dalam berbangsa dan bernegara.
Sinkronisasi dua kepentingan ibadah ini memerlukan kearifan lokal yang mampu menjembatani perbedaan teknis agar tidak terjadi gesekan. Kita harus mampu menempatkan empati di atas kepentingan ego kelompok demi tercapainya ketenangan hidup yang bersama.
Masyarakat Sasak memiliki kekayaan nilai luhur yang dikenal dengan konsep saling asah, saling jaga, dan saling asung. Nilai-nilai ini bukanlah sekadar artefak budaya masa lalu, melainkan kompas moral yang sangat relevan untuk diaplikasikan saat ini.
Konsep ini mengajarkan kita untuk saling mencerdaskan, melindungi, dan memberi dukungan tanpa memandang latar belakang keyakinan. Dengan merujuk pada kearifan ini, kita memiliki fondasi yang kuat untuk merajut kembali simpul persaudaraan yang kokoh.
Implementasi nilai saling jaga berarti menciptakan suasana kondusif agar setiap umat dapat menjalankan ibadahnya dengan khusyuk. Kedamaian tidak tercipta otomatis tanpa kesadaran kolektif untuk menjaga kenyamanan pihak lain yang sedang beribadah.
Setiap individu harus mampu menahan diri dari tindakan yang sekiranya dapat mengganggu kekhusyukan pihak lain. Hal ini penting demi terciptanya tatanan sosial yang beradab dan beretika, di mana setiap orang merasa aman menjalankan kewajiban agamanya.
Oleh karena itu, kerukunan merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat dalam menjaga persatuan. Menjaga keutuhan sosial adalah kerja panjang yang membutuhkan konsistensi serta ketulusan hati dari semua pihak yang terlibat di dalamnya.
Di tengah arus informasi yang provokatif, kemampuan masyarakat untuk tetap tenang dan analitis menjadi tameng utama. Kita harus kritis menyaring informasi agar tidak mudah teradu domba oleh pihak yang ingin merusak tenun perdamaian di bumi Sasak.
Sikap saling menghormati ini juga memiliki dampak signifikan terhadap kualitas demokrasi kita di tingkat akar rumput. Demokrasi yang sehat memerlukan warga negara yang toleran terhadap perbedaan, sehingga stabilitas politik dan sosial dapat terjaga baik.
Perjumpaan Idul Fitri dan Nyepi tahun ini seyogianya menjadi refleksi mendalam tentang indahnya keberagaman jika dikelola bijak. Kita diajak melihat bahwa perbedaan bukan jurang pemisah, melainkan kekayaan yang memperindah corak kehidupan berbangsa.
Upaya memperkuat ukhuwah tidak boleh berhenti pada kata-kata, melainkan mewujud dalam tindakan nyata di masyarakat. Misalnya dengan saling menjaga keamanan lingkungan saat saudara kita beribadah sebagai bentuk pengakuan eksistensi yang sangat tulus.
Sebagai sintesis, kita perlu menyadari bahwa harmoni adalah proses yang harus terus diupayakan setiap hari. Dengan modal sosial kearifan Sasak dan nilai inklusif, kita memiliki optimisme kuat bahwa persaudaraan lintas iman akan semakin berkualitas.
Semoga kebersamaan ini menjadi penguat persaudaraan dan cerminan kedewasaan masyarakat dalam merawat keberagaman. Selamat Idul Fitri bagi umat Islam dan selamat Nyepi bagi umat Hindu; mari kita jaga cahaya kedamaian ini dalam dekapan harmoni abadi.*

















Indahnya perbedaan