PorosLombok.com – Ribuan warga Sasak memadati wisata alam Pancor Kopong, Lombok Timur, guna merayakan tradisi Lebaran Topat. Momentum tahunan ini menjadi puncak kunjungan wisatawan lokal usai menuntaskan puasa sunah Syawal pada Minggu (29/03/2026).
Objek wisata tersebut menjadi titik pusat keramaian paling diminati pengunjung dari berbagai penjuru wilayah. Aliran air pegunungan yang jernih dan suasana asri pedesaan menjadi daya tarik utama bagi masyarakat yang datang membawa bekal ketupat.
”Jumlah pengunjung meningkat sangat signifikan selama puncak libur lebaran hingga mencapai angka 3.000 orang dalam sehari,” kata Pengelola Wisata Pancor Kopong Mulyadi.
Mulyadi menjelaskan bahwa antusiasme masyarakat tetap tinggi meskipun cuaca panas terik menyengat kawasan kolam pemandian tersebut sejak pagi hari. Pihak pengelola telah menyiagakan personel tambahan untuk mengatur kepadatan arus masuk di pintu gerbang utama.
Pengelola menyediakan fasilitas berupa tiga kolam renang yang representatif bagi kalangan anak-anak maupun orang dewasa untuk berendam dengan nyaman. Selain itu, kawasan ini menawarkan sensasi kesegaran air terjun alami yang masih terjaga keaslian vegetasi di sekelilingnya.
”Kami melibatkan para pemuda setempat untuk mengelola area parkir yang memadai demi menjamin keamanan kendaraan seluruh tamu,” ujarnya.
Keluhan Akses Jalan Rusak Hantui Wisatawan Pancor Kopong
Mulyadi berharap pemerintah daerah segera memberikan perhatian serius terkait perbaikan akses jalan raya yang menuju lokasi wisata unggulan desa ini. Kondisi aspal yang mantap tentu akan sangat menunjang kenyamanan serta meningkatkan minat kunjungan wisatawan di masa mendatang.
Wisatawan asal Masbagik bernama Silia menilai Pancor Kopong merupakan destinasi rekreasi keluarga yang sangat terjangkau secara biaya namun tetap memberikan kesan mendalam. Ia mengaku rutin mengunjungi tempat ini setiap perayaan hari besar keagamaan tiba.
”Tempat ini sangat nyaman dan murah, tetapi aspek kebersihan serta manajemen sampah harus mendapatkan peningkatan lebih lanjut,” katanya.
Silia meyakini potensi alam yang luar biasa besar ini dapat memberikan dampak ekonomi berantai bagi kemajuan warga sekitar jika dikelola secara maksimal. Peran aktif pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk memoles fasilitas pendukung agar standar pelayanan semakin profesional.
Objek wisata ini bukan sekadar tempat bermain air, melainkan simbol kuat kebersamaan masyarakat dalam melestarikan warisan leluhur yang sarat makna. Lebaran Topat terbukti mampu menggerakkan roda ekonomi kerakyatan melalui sektor pariwisata berbasis komunitas lokal.
”Jika tata kelola lingkungan ini terus diperbaiki, saya yakin Pancor Kopong akan menjadi destinasi unggulan yang membanggakan daerah,” pungkasnya.*
















