PorosLombok.com – Kabupaten Lombok Timur mencetak sejarah baru setelah pertumbuhan ekonominya meroket hingga 4,93 persen sepanjang tahun 2025 berdasarkan rilis data Badan Pusat Statistik pada Kamis (2/4/2026).
Angka fantastis ini menempatkan Lombok Timur sebagai kekuatan ekonomi baru yang performanya berada jauh di atas rata-rata pertumbuhan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang hanya menyentuh 3,22 persen.
“Capaian ini adalah lompatan tertinggi dalam lima tahun terakhir bagi daerah kita,” ujar Kepala BPS Lombok Timur, Sri Endah Wardanti.
Selaras dengan hal itu, Sri Endah menjelaskan bahwa akselerasi ekonomi mulai terasa sejak awal tahun dengan pertumbuhan triwulan pertama sebesar 5,56 persen. Tren ini terus terjaga meski sempat fluktuatif di pertengahan periode.
“Puncaknya terjadi pada triwulan keempat dengan ledakan angka mencapai 6,61 persen,” katanya.
Lebih lanjut, sektor penyediaan makan dan minum muncul sebagai mesin utama penggerak kesejahteraan masyarakat. Kehadiran program Satuan Pelayanan Pemakanan Gratis (SPPG) secara masif menjadi faktor pembeda yang sangat signifikan.
Efek SPPG: Geliat Sektor Konsumsi yang Mengasapi Pertumbuhan Provinsi
Implementasi program makan bergizi gratis melalui skema SPPG terbukti memberikan multiplier effect luar biasa bagi para pengusaha kuliner dan UMKM lokal. Lonjakan konsumsi ini membuat perputaran uang di masyarakat bergerak lebih cepat dibandingkan sektor-sektor konvensional lainnya.
“Dampak nyata SPPG sangat terasa karena sektor ini menyerap banyak tenaga kerja lokal dan hasil tani daerah,” jelasnya.
Sesuai dengan fakta, gairah ekonomi di sektor penyediaan makanan ini berhasil menjadi penyelamat saat sektor lain mengalami perlambatan. Prestasi ini menempatkan Lombok Timur sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di seluruh NTB.
Jika menilik ke belakang, performa ekonomi tahun 2021 yang hanya 3,12 persen kini sudah berkembang sangat pesat. Stabilitas kebijakan daerah dalam mendorong sektor jasa melalui program kerakyatan menjadi kunci utama keberhasilan transisi ekonomi ini.
“Angka 4,93 persen ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi kita melalui pemberdayaan SPPG sangat kuat,” ujarnya.
Di sisi lain, capaian luar biasa ini juga memberikan tekanan positif bagi pemerintah daerah untuk terus menjaga konsistensi program tersebut. Peningkatan kualitas layanan publik harus berjalan beriringan dengan melimpahnya arus modal yang masuk ke wilayah timur pulau ini.
“Kami optimistis Lombok Timur akan terus menjadi motor penggerak utama ekonomi NTB melalui penguatan sektor konsumsi,” pungkasnya.*


















