PorosLombok.com – Suasana haru menyelimuti momen pelepasan jemaah calon haji di Dusun Rumak Barat Utara, Desa Rumak, Kediri, Lombok Barat melalui tradisi Zikir Saman yang memukau ratusan pasang mata, Selasa (21/4/2026) malam.
Warga setempat memilih cara istimewa untuk mengantar kerabat menuju Tanah Suci dengan memadukan unsur religius dan seni bela diri. Tradisi ini menjadi simbol dukungan moral serta doa keselamatan bagi mereka yang terpilih menjadi tamu Allah.
“Pada momen musim haji, para pemuda di sini selalu melakukan Zikir Saman di rumah-rumah jemaah yang akan berangkat,” ujar Ketua Zikir Saman, H. Suhaili.
H. Suhaili menjelaskan bahwa atraksi ini menampilkan puluhan pemuda yang bergerak kompak berpasangan mengikuti irama selawat. Setiap gerakan pencak silat yang dinamis mencerminkan ketangkasan fisik sekaligus pengingat atas keagungan Sang Pencipta.
Lantunan doa yang dipadukan dengan jurus silat tersebut dianggap sebagai bentuk penguatan spiritual bagi jemaah sebelum menempuh perjalanan jauh. Masyarakat meyakini harmoni antara gerak dan zikir mampu menghadirkan ketenangan jiwa bagi keluarga yang ditinggalkan.
“Pembacaan hikayat dengan bahasa Sasak dilakukan agar masyarakat mudah memahami makna syiar Islam yang terkandung,” katanya.
Penggunaan bahasa daerah dalam selawat ini bertujuan agar pesan moral dan nilai-nilai keislaman tersampaikan langsung ke hati jemaah. Integrasi budaya lokal dan ajaran agama ini menjadikan prosesi pemberangkatan haji terasa lebih sakral sekaligus edukatif bagi generasi muda.
Para penampil secara bergantian membacakan kisah-kisah teladan Nabi dalam bahasa Arab, Indonesia, dan Sasak secara fasih. Keberagaman bahasa ini mempertegas identitas warga Lombok Barat yang menjunjung tinggi akar budaya namun tetap taat pada kaidah syariat.
“Saya merasa terhibur sekaligus termotivasi oleh doa-doa yang dilantunkan melalui gerakan energik tersebut,” jelas calon jemaah haji, Rosiana Nurbaya.
Rosiana Nurbaya mengaku rasa cemas keberangkatan berubah menjadi semangat berkat dukungan komunitas lewat seni tradisional. Penampilan para pemuda tersebut memberikan dorongan psikologis positif sehingga jemaah merasa ikhlas dan fokus untuk beribadah di Baitullah.
Keluarga besar jemaah juga turut merasakan kedamaian saat menyaksikan putra-putra terbaik desa melantunkan puji-pujian kepada Rasulullah. Atraksi ini secara otomatis memecah ketegangan dan tangis perpisahan menjadi kegembiraan yang penuh dengan optimisme.
“Zikir ini ditujukan untuk menghibur dan mendoakan para jemaah agar diberikan kelancaran selama beribadah,” ucapnya.
Warisan leluhur ini tidak hanya eksis saat musim haji, namun tetap hidup dalam berbagai perayaan penting masyarakat seperti khitanan dan ngurisan. Konsistensi warga menjaga Zikir Saman membuktikan bahwa nilai-nilai kebersamaan masih menjadi fondasi kuat di kehidupan sosial.
Acara berakhir dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat di bawah temaram lampu halaman rumah jemaah. Seluruh elemen desa bersatu dalam satu harapan agar para tamu Allah asal Desa Rumak meraih predikat haji mabrur.
“Tradisi ini adalah warisan lintas generasi yang menjadi penyemangat bagi warga yang akan bertolak ke Mekkah,” pungkasnya.*















