DPRD Mataram Dukung Lima Hari Sekolah, Zia Urrahman: Waktu Eskul Jadi Lebih Panjang!

DPRD Kota Mataram mendukung kebijakan lima hari sekolah. Zia Urrahman menilai sistem ini efektif menambah durasi ekstrakurikuler dan mengurangi ketergantungan siswa pada gawai.

PorosLombok.com – DPRD Kota Mataram mengapresiasi implementasi kebijakan lima hari sekolah yang telah berjalan selama empat bulan di wilayah ibu kota provinsi guna mengoptimalkan pengembangan potensi akademik maupun karakter peserta didik.

​Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Mataram, Zia Urrahman menilai aturan tersebut memberikan dampak luas bagi lingkungan pendidikan. Politisi ini memandang skema tersebut mampu memperkuat hubungan emosional antara anak dan orang tua secara signifikan.

​”Keunggulannya, kebijakan lima hari sekolah ini memperpanjang waktu eskul sehingga anak-anak memiliki kesempatan lebih untuk mengembangkan diri,” ujar Zia Urrahman, Jumat (24/4/2026).

​Zia menjelaskan bahwa penambahan durasi belajar sekitar dua jam setiap hari membuat ruang eksplorasi minat bakat siswa makin terbuka. Transformasi ini mengubah pola pembinaan ekstrakurikuler menjadi lebih mendalam dan berkualitas dari sebelumnya.

​Menurutnya, hari Sabtu yang kini menjadi waktu libur bagi siswa merupakan momen krusial untuk menciptakan kedekatan keluarga. Waktu luang tersebut sangat efektif untuk meningkatkan pengawasan orang tua terhadap perilaku anak di luar sekolah.

​”Kualitas dan kuantitas waktu pemantauan dari keluarga ke anak bertambah. Sabtu menjadi waktu berkualitas bagi keluarga untuk menyempatkan momen bersama,” jelasnya.

​Legislator ini juga menyoroti aspek kemandirian siswa yang terasah melalui kebijakan baru tersebut. Hari libur tambahan menjadi sarana bagi anak untuk belajar peka terhadap beban pekerjaan rumah tangga serta membantu aktivitas ekonomi orang tua.

​Ia berpendapat bahwa kepekaan sosial siswa akan terbentuk secara natural ketika mereka memiliki waktu senggang yang produktif di rumah. Hal ini menjadi fondasi penting dalam membangun karakter generasi muda yang peduli dan bertanggung jawab.

​”Karena waktu di sekolah bertambah, maka waktu bagi anak-anak untuk menggunakan gadget otomatis berkurang. Fokus mereka teralihkan pada aktivitas sekolah,” tuturnya.

​Zia menambahkan bahwa durasi sekolah yang lebih panjang secara mekanis menekan ketergantungan anak terhadap perangkat elektronik atau gawai. Interaksi fisik antarsiswa di sekolah dianggap jauh lebih sehat dibandingkan terpapar konten digital secara berlebih.

​Berdasarkan serapan aspirasi di lapangan, para wali murid merespons positif karena jam istirahat anak menjadi lebih teratur akibat aktivitas sekolah yang padat. Pola ini dinilai mampu memperbaiki siklus kehidupan harian siswa secara keseluruhan.

​”Orang tua murid juga merasakan dampak positif karena waktu anak belajar lebih lama daripada main gadget di rumah, selain itu istirahat anak juga lebih cepat,” pungkasnya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU