PorosLombok.com – Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Wathan (PGNW) Hj. Lale Yaqutunnafis menegaskan pentingnya pendidikan sebagai pilar perjuangan kemerdekaan serta fondasi utama dalam membangun peradaban umat manusia di Indonesia.
Anggota DPRD Provinsi NTB ini mengungkapkan bahwa pendirian madrasah untuk laki-laki dan perempuan merupakan simbol keharmonisan hidup. Langkah tersebut menjadi strategi besar dalam memperkuat kedaulatan negara melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Ninikda Maulanasyeikh mendirikan dua madrasah untuk laki-laki dan wanita sebagai simbol kehidupan seiring sejalan,” ujar Ummi Yaqut, Minggu (19/4/2026).
Tokoh perempuan NW ini menjelaskan bahwa pembagian wadah belajar tersebut tetap menjaga batasan kodrat masing-masing gender. Tujuannya agar kaum pria dan wanita dapat saling bahu-membahu menegakkan iman serta takwa dalam mengisi pembangunan nasional.
“NWDI berdiri tahun 1937 dan Madrasah NBDI menyusul pada tahun 1943 sebagai bentuk kesetaraan hak,” katanya.
Enam tahun setelahnya, Madrasah Nahdlatul Banat Diniah Islamiyah (NBDI) lahir untuk memberikan ruang khusus bagi kaum perempuan. Kehadiran NBDI menegaskan visi Maulanasyeikh bahwa wanita memiliki peran sentral dalam mencetak generasi penerus yang beradab.
Pendidikan sebagai Senjata Melawan Penjajahan dan Kebodohan

Sektor pendidikan menjadi prioritas utama yang dilaksanakan Maulanasyeikh sejak masa pergerakan tanah air. Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia mustahil tercapai tanpa adanya pencerahan intelektual yang membebaskan rakyat dari segala aspek penindasan.
“Pendidikan adalah pilar utama yang guru besar kita laksanakan agar merdeka dari segala aspek penindasan,” jelasnya.
Penjajah di masa lalu sangat memahami bahwa rakyat yang berpendidikan akan sulit dikuasai dan ditindas. Oleh karena itu, gerakan pendidikan yang masif menjadi kunci utama untuk meruntuhkan rantai kebodohan yang sengaja dipelihara oleh kolonial.
Gerakan ini terbukti berhasil mengangkat martabat putra daerah melalui proses transformasi mental dan spiritual yang berkelanjutan. Banyak anak didik yang kemudian bertransformasi menjadi ustadz serta guru sekolah guna melanjutkan estafet perjuangan agama.
“NW membuka lembaran sejarah, mengangkat putra daerah, terbukti dalam diri anakdah menjadi ustadz dan guru sekolah,” ucapnya mengutip bait Syair Wasiat Renungan Masa.
Ummi Yaqut memandang pendidikan sebagai bentuk ibadah sekaligus kekayaan hakiki bagi manusia. Dengan bekal ilmu yang disandingkan dengan iman, manusia diyakini mampu menembus batas ruang dan waktu untuk meraih kemuliaan hidup dunia akhirat.
Gerakan NW melalui pergerakan tanah air terus konsisten menjaga marwah pendidikan sebagai instrumen perjuangan. Kader-kader didikan madrasah diharapkan mampu menjawab tantangan zaman dengan pondasi takwa yang tidak mudah goyah oleh arus modernisasi.
“Selamat Hultah Madrasah NBDI ke-83, semoga terus mencetak generasi yang berbakti pada agama, nusa, dan bangsa,” pungkasnya.*















