Dikbud Lotim Bidang PAUD Laksanakan Tiga Program Strategis Penunjang Mutu Pendidikan

Dikbud Lotim dorong mutu PAUD via program inklusi, penyesuaian status sekolah, dan pembagian Papan Interaktif Digital ke 500 TK/PKBM untuk percepat digitalisasi.

PorosLombok.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur melalui Bidang Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal (PAUD-PNF) tengah mengintensifikasikan tiga program strategis dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Kepala Bidang PAUD-PNF Dikbud Lombok Timur, Lalu M. Jauhari Marjani, kepada awak media memaparkan tiga program yang menjadi sebuah keniscayaan untuk dijalankan pada era digitalisasi saat ini.

“Tiga program itu yakni; Pendidikan inklusi, kebijakan pendidikan, dan digitalisasi pendidikan,” ungkapnya, Jum’at (4/9/2026).

Ia menjelaskan, pendidikan inklusi merupakan sebuah proses pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus seperti anak difabel dan disabilitas. Dalam proses belajar mengajar, umumnya mereka membutuhkan alat bantu.

“Tunarungu misalnya, kelompok ini membutuhkan alat dengar dalam pembelajaran. Yang tunanetra membutuhkan sistem tulisan braille, dan lain-lain,” terangnya.

Di Lombok Timur sendiri, sekolah inklusi atau pembelajaran inklusi dilaksanakan sambil memperkenalkan tentang teknologi asistif atau yang biasa disebut assistive technology. Alat ini merupakan perangkat lunak atau sistem yang digunakan untuk membantu siswa disabilitas atau kebutuhan khusus.

Dalam proses pendidikan inklusi di daerah ini masih mengalami beberapa kendala, terutama Sumber Daya Manusia (SDM) dalam hal ini tenaga pendidik, karena memerlukan tenaga guru dengan keterampilan khusus.

Program kedua yang juga harus berjalan secara simultan, adalah kebijakan pendidikan. Program ini, jelas dia, membutuhkan perhatian dan kepedulian dari pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan Lombok Timur.

Dalam program ini, Dinas Pendidikan Lombok Timur dalam beberapa kasus bertindak dan membantu satuan pendidikan dalam merubah status. Misalnya, dari KB menjadi TK, dari SPS menjadi TK, dan lain sebagainya.

“Salah satu alasan mereka merubah status itu misalnya; mereka melihat kalo statusnya TK, para guru berkesempatan mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG),” ujarnya.

Dengan mengikuti PPG, maka para guru khususnya yang mengajar di tingkat PAUD tidak saja dapat meningkatkan skill, tetapi juga bisa meningkatkan kesejahteraan nya.

“Tapi merubah status ini tidak harus, melainkan sebuah pilihan,” katanya.

Selanjutnya program yang tidak kalah krusialnya adalah, digitalisasi pendidikan. Program ini menjadi sebuah keniscayaan bagi semua satuan pendidikan, baik guru maupun kepala sekolah untuk setidaknya mengenal Teknologi Informasi.

“Nah untuk menunjang program ini, sekarang ini kita sedang distribusikan TV Digital dengan layar besar yang biasa kita kenal dengan Papan Interaktif Digital (PID) untuk 500 TK/PAUD dan PKBM se-Lombok Timur,” ungkapnya.

Untuk itu, para guru maupun kepala sekolah pada semua satuan pendidikan dituntut untuk memiliki kemampuan dalam mengoperasikan instrumen tersebut agar dapat mengajar secara kreatif, inovatif, dan adaptif.

“Untuk itulah mereka (guru dan kepala sekolah-red) kita berikan pelatihan, supaya mereka melek teknologi. Dengan demikian, maka digitalisasi pendidikan dapat kita terapkan,” pungkasnya. *

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU