PorosLombok.com – Prevalensi stunting di wilayah kerja Puskesmas Kotaraja menunjukkan tren penurunan dari 30 persen pada 2025 menjadi 26,95 persen berdasarkan penarikan data per September 2026.
Penurunan angka gangguan pertumbuhan anak ini menjadi bukti berjalannya berbagai program pencegahan, meskipun pihak puskesmas menilai capaian tersebut belum membuat tim di lapangan berpuas diri.
Kepala Puskesmas Kotaraja, Lalu M. Ilmi, menyampaikan perkembangan positif penurunan angka gizi buruk anak di wilayah kerjanya tersebut.
“Untuk stunting, alhamdulillah kalau kita bandingkan data 2025 dengan tahun 2026 ini ada penurunan,” ujarnya.Rabu (07/10/2026).
Hilmi menjelaskan rincian perubahan angka prevalensi stunting yang tercatat dalam sistem pendaftaran gizi di wilayahnya.
“Jadi di tahun 2025 prevalensi stunting untuk wilayah Kabupaten Utara ini di angka 30%, tetapi di tahun 2025 tarikan data per September kemarin itu sudah prevalensinya di angka 26,95%,” katanya.
Meskipun tren menunjukkan arah positif, pihaknya menegaskan komitmen untuk terus bekerja keras menekan angka anak terindikasi kerdil hingga mencapai target ideal.
“Tetapi kita harus kerja keras lagi karena secara nasional kita masih di posisi mengejar ya, supaya paling tidak kita bisa turun sampai dengan 22%, bila perlu lebih… lebih turun lagi, seperti itu,” tuturnya.
Upaya penurunan gizi buruk pada Balita membutuhkan kerja sama lintas sektor mengingat akar masalah kesehatan ini sangat beragam di tengah warga.
Hilmi membeberkan langkah konkret yang disiapkan pihak pimpinan puskesmas guna mempercepat target penurunan kasus kurang gizi.
“Ya, untuk ke depannya kita akan tingkatkan terus koordinasi kita dengan semua pihak, karena penanganan stunting ini harus secara komprehensif ya, tidak bisa secara parsial-parsial, karena stunting ini ada multifaktor di sini,” terangnya.
Pendekatan menyeluruh ini melibatkan koordinasi aktif bersama pemerintah desa setempat hingga pimpinan instansi tingkat kecamatan.
Pelibatan elemen masyarakat akar rumput seperti kader Posyandu dianggap sangat menentukan keberhasilan deteksi dini pertumbuhan anak di setiap dusun.
Sektor pendidikan dan lembaga keagamaan juga masuk dalam daftar mitra kerja untuk mengedukasi calon pengantin serta orang tua muda.
Kolaborasi ini diharapkan mampu membangun pemahaman masyarakat mengenai pentingnya asupan gizi seimbang serta pola asuh yang benar sejak masa kehamilan.
Hilmi mempertegas pentingnya peranan seluruh elemen wilayah dalam menyukseskan program bebas gizi buruk bagi generasi mendatang.
“Nanti kita lebih tingkatkan lagi koordinasi dengan semua komponen masyarakat, dengan pemerintah desa, dengan teman-teman kader, kemudian dengan Dinas Pendidikan, kemudian dengan Kementerian Agama. Singkatnya dengan semua komponen ya, tentunya sesuai dengan kewenangan masing-masing,” pungkasnya.


















