(PorosLombok.com) – Persoalan pernikahan usia anak di Nusa Tenggara Barat (NTB) ibarat fenomena gunung es yang menyimpan bom waktu bagi masa depan generasi daerah ini.
Berdasarkan data yang dihimpun, angka pernikahan dini menjadi salah satu faktor dominan yang mencekik upaya pemerintah dalam menekan angka stunting di Bumi Gora.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr. Hamzi Fikri, membeberkan fakta mencengangkan terkait kondisi sosiologis masyarakat saat ini yang berdampak pada kesehatan anak.
Ia menyebut bahwa kontribusi pernikahan usia dini terhadap tingginya angka stunting di NTB sangatlah signifikan, yakni menyentuh angka hampir 30 persen.
”Kontribusinya sangat besar. Hasil diskusi kami dengan akademisi menunjukkan bahwa pernikahan muda menyumbang hampir 30 persen terhadap kasus stunting,” ungkap dr. Hamzi Fikri. Kemarin Selasa (06/1/2026).
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa ketidaksiapan fisik dan psikologis menjadi penyebab utama mengapa pasangan usia dini rentan melahirkan anak dengan kondisi gagal tumbuh.
”Secara fisik dan psikis mereka belum siap. Dampaknya, sekitar 80 sampai 90 persen dari pernikahan dini ini melahirkan anak stunting,” tegas dokter yang dikenal lugas ini.
Namun, yang paling mengejutkan adalah adanya disparitas atau perbedaan data yang sangat mencolok antara laporan administratif pernikahan dengan realita di lapangan.
Dr. Hamzi mengungkap, dalam setahun pernikahan anak yang terlapor hanya sekitar 1.000 kasus, namun angka remaja di bawah 20 tahun yang melahirkan justru mencapai 6.000 orang.
”Ada perbedaan data yang ngeri. Laporannya seribu, tapi yang melahirkan di Puskesmas hampir 6.000 orang. Ini artinya banyak pernikahan bawah tangan yang tidak terlapor,” tuturnya.
Faktor ekonomi, sosial, dan budaya ditengarai masih menjadi akar masalah yang memicu tingginya angka pernikahan “gelap” atau tidak tercatat di instansi resmi tersebut.
Ia mengimbau masyarakat, jika pernikahan sulit dicegah, setidaknya pasangan tersebut harus menunda kehamilan hingga usia fisik dan mental mereka benar-benar matang.
(arul/PorosLombok)













