(PorosLombok.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Lombok Timur merilis data terbaru soal garis kemiskinan dan angka kemiskinan 2024. Hasilnya membingungkan: standar hidup makin mahal, tapi jumlah warga miskin justru menurun.
Garis Kemiskinan (GK) — batas minimal pengeluaran untuk hidup layak — terus naik selama lima tahun terakhir. Bahkan pada 2023, kenaikannya mencapai 8,52 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Garis kemiskinan itu mencakup kebutuhan makanan dan nonmakanan, setara 2.100 kkal per hari,” kata Kepala BPS Lotim, Sri Endah Wardanti, Jumat (6/7).
Sri Endah merinci, GK Lombok Timur pada 2020 sebesar Rp472.304. Angka ini sempat turun di 2021 menjadi Rp447.263. Namun sejak 2022 terus naik: Rp503.525 di 2022, lalu Rp546.404 di 2023, dan kini mencapai Rp583.957 pada 2024.
Kenaikan ini jelas menunjukkan bahwa harga kebutuhan dasar terus membumbung. Ironisnya, jumlah penduduk miskin justru diklaim berkurang oleh BPS.
“Persentase penduduk miskin 2024 tercatat 14,51 persen, turun dari 15,63 persen pada 2023,” ucapnya.
Menurut BPS, warga disebut miskin jika pengeluaran bulanannya masih di bawah garis kemiskinan. Namun di tengah melambungnya biaya hidup, penurunan jumlah miskin ini mengundang tanda tanya.
Indikator lain yang ikut turun adalah Indeks Kedalaman Kemiskinan, dari 3,57 pada 2023 menjadi 2,66 di 2024.
“Artinya, pengeluaran warga miskin makin mendekati garis kemiskinan,” kata Sri Endah menjelaskan.
Meskipun terlihat positif, data ini juga mengisyaratkan bahwa sebagian besar penduduk nyaris jatuh miskin dan bertahan di ambang batas. Mereka belum keluar dari garis bahaya, hanya sedikit lebih dekat ke permukaan.
Semua data ini bersumber dari Booklet Indikator Strategis BPS Kabupaten Lombok Timur 2020–2025.
(arul/PorosLombok)



















