BMKG Ingatkan Kemarau Basah, BPBD Lotim Minta Warga Siaga!

PorosLombok.com – Cuaca tak menentu belakangan ini membuat istilah kemarau basah kembali mencuat. Fenomena ini terjadi ketika hujan tetap turun meskipun kalender sudah masuk musim kemarau.

BMKG menyebut, sebagian wilayah Indonesia berpotensi mengalami kemarau basah pada pertengahan 2025. Bukan musim hujan berkepanjangan, tapi curah hujan tetap tinggi di saat seharusnya kering. Fenomena ini dipengaruhi oleh kondisi global seperti La Nina.

Kepala Pelaksana BPBD Lombok Timur, Lalu Mulyadi, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, kemarau basah adalah kondisi hujan yang masih turun secara berkala saat musim kemarau, atau disebut juga kemarau di atas normal.

“Biasanya musim kemarau identik dengan panas dan minim hujan. Tapi saat kemarau basah, intensitas hujan tetap tinggi, meski frekuensinya menurun,” kata Mulyadi, Kamis (5/6).

BMKG menyebut, dinamika atmosfer regional dan global seperti suhu muka laut yang hangat, monsun aktif, serta La Nina dan IOD negatif menjadi pemicu utamanya. Saat ini, La Nina dikabarkan mulai menuju fase netral.

La Nina sendiri adalah fenomena pendinginan suhu laut di wilayah Pasifik tengah yang bisa meningkatkan curah hujan di Indonesia. Kondisi ini membuat musim kemarau tahun ini datang normal atau sedikit lebih lambat di 409 Zona Musim (ZOM). Curah hujan diprediksi masih dalam kategori normal.

“Klima Edisi VI 2022 menyebut La Nina bisa memicu anomali cuaca, termasuk kemarau basah di Indonesia,” ujar Mulyadi.

Ia menjelaskan, kemarau basah punya dua sisi. Di satu sisi, pasokan air meningkat dan itu mendukung sektor perairan. Tapi, bagi pertanian, justru bisa bikin kerugian besar. Lahan jadi terlalu lembap dan bisa menyebabkan gagal panen, terutama pada komoditas seperti jagung, kacang-kacangan, dan kedelai.

“Perubahan pola hujan membuat petani kesulitan merencanakan aktivitas tanam. Hama dan penyakit tanaman juga lebih mudah berkembang di kondisi lembap,” jelasnya.

Mulyadi menegaskan, fenomena ini jadi bukti nyata dari perubahan iklim global yang mengacaukan pola musim yang selama ini dikenal. Karena itu, masyarakat diminta terus memantau informasi dari BMKG dan pemerintah daerah.

“Diperlukan penyampaian informasi iklim yang akurat dan mudah diakses masyarakat,” ujarnya.

BMKG menyatakan kemarau basah akan berlangsung hingga Agustus 2025, disusul masa transisi atau pancaroba pada September–November. Musim hujan diperkirakan datang mulai Desember 2025 hingga Februari 2026.

Sebanyak 403 ZOM atau 57,7 persen wilayah Indonesia diprediksi mulai kemarau pada April–Juni 2025, dengan Nusa Tenggara menjadi wilayah yang lebih dulu masuk kemarau. Puncaknya diperkirakan terjadi Agustus.

Namun, durasi musim kemarau 2025 diprediksi lebih pendek dari biasanya, yakni hanya di 298 ZOM atau sekitar 43 persen wilayah.

Perlu diketahui, kemarau biasa ditandai dengan curah hujan rendah, langit cerah, suhu tinggi, dan kelembapan rendah. Dampaknya meliputi kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, hingga risiko gagal panen.

Sementara itu, dampak kemarau basah paling signifikan dirasakan di sektor pertanian.

“Produksi turun bahkan bisa gagal panen, terutama kacang-kacangan, padi, dan tembakau. Tanah jadi terlalu lembap karena pasokan air berlebihan,” ucapnya.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Lotim mengimbau masyarakat yakni :

(1). Memantau informasi cuaca dari BMKG dan menyesuaikan pola tanam. (2). Memperbaiki infrastruktur irigasi dan drainase, membuat bedengan, gorong-gorong, serta membersihkan parit dari sampah, (3).Selalu siaga menghadapi potensi bencana dan siap evakuasi mandiri.

“Jangan lengah. Fenomena ini nyata dan dampaknya bisa langsung terasa. Siapkan diri, siapkan lahan, dan terus pantau perkembangan,” pungkas Mulyadi.

(arul/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU