(PorosLombok.com) – Usai menggelar aksi di depan Kantor Bupati Lombok Timur, massa Cipayung Plus bergerak menuju Kantor DPRD Lotim, Senin (1/9). Aksi tersebut sempat memanas dan nyaris ricuh.
Situasi bisa dikendalikan setelah aparat kepolisian bersama TNI turun tangan menenangkan massa. Ketegangan yang muncul tidak sampai berujung bentrokan.
Salah satu orator aksi, Yandis dari IMM, melontarkan kritik keras kepada para wakil rakyat. Ia menyoroti minimnya kehadiran anggota DPRD yang menemui massa.
“Dewan yang lain kemana, kok cuma ini-ini saja. Masak tiap hari reses dan kunker, padahal pas rapat paripurna tidak satupun perda yang dihasilkan,” teriaknya.
Pernyataan itu langsung disambut sorakan massa. Mereka menilai wakil rakyat di Lotim tidak serius menjalankan fungsi legislatif.
Dalam orasinya, Yandis bahkan menyebut DPRD Lotim hanya tidur dan tidak bekerja. Ia menegaskan jika tuntutan massa tidak direspons, aksi lanjutan dengan jumlah peserta lebih besar akan digelar.
“Pokok kalau sampai tuntutan kami tidak digubris, maka kami akan bawa massa lebih banyak dan akan kami duduki kantor DPR,” ancamnya.
Ketua DPRD Lotim M.Yusri yang hadir menemui massa mencoba meredakan ketegangan. Ia menegaskan aspirasi Cipayung Plus akan diteruskan ke pemerintah pusat.
Di hadapan peserta aksi, ia juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya salah satu pengemudi ojek online saat aksi sebelumnya. “Kami turut berduka cita atas wafatnya salah satu teman ojol saat demo,” katanya.
Ketua DPRD Lotim menambahkan pihaknya siap menandatangani poin-poin tuntutan yang diajukan. “Kami akan tandatangani apa yang jadi tuntutan teman-teman Cipayung Plus,” ujarnya.
Adapun tuntutan massa antara lain pengesahan UU Perampasan Aset bagi koruptor, transparansi informasi publik, serta sejumlah poin lainnya yang dinilai krusial untuk masyarakat.
Aksi di depan Kantor DPRD Lotim itu berlangsung hingga siang. Setelah menyampaikan aspirasi, massa akhirnya membubarkan diri dengan tertib di bawah pengawalan aparat.
(arul/PorosLombok)


















