PorosLombok.com – Tim Penggerak PKK Provinsi Nusa Tenggara Barat menggandeng The Gentle Care Foundation Indonesia untuk merombak total pola penanganan stunting di tingkat pedesaan.
Langkah taktis ini diwujudkan melalui uji coba Media Assessment Partisipatif dengan mengadopsi pendekatan Komunikasi Antar Pribadi. Agenda strategis tersebut terlaksana di Desa Sakra, Kabupaten Lombok Timur pada Selasa (16/6/2026).
Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Nusa Tenggara Barat Hj. Sinta Agathia Iqbal menyatakan bahwa kesadaran domestik merupakan kunci utama dalam memutus rantai kasus gizi buruk yang selama ini belum tuntas.
“Selama ini keluarga sering kali hanya menjadi penerima informasi secara pasif di lapangan,” katanya.
Sinta Agathia Iqbal mengkritik metode konvensional satu arah yang membuat orang tua tidak memahami faktor mendasar pemicu gangguan tumbuh kembang anak mereka sendiri.
“Melalui pendekatan baru ini, kami ingin orang tua menjadi subjek utama pembawa perubahan,” ujarnya.
Inovasi teknologi visual MAP ini memanfaatkan media cetak berbentuk peta khusus agar warga bisa memetakan sendiri keterkaitan antara aspek nutrisi, ekonomi, hingga akses sanitasi bersih.
“Ketika kesadaran itu tumbuh dari dalam rumah, hasil penyembuhan akan jauh lebih berkelanjutan,” jelasnya.
Kader Posyandu kini diarahkan bertindak sebagai fasilitator dialog aktif yang mendampingi kelompok ibu rumah tangga dalam mengambil keputusan krusial secara mandiri.
“Model di Desa Sakra ini menjadi langkah awal untuk direplikasi ke seluruh kabupaten,” katanya.
Ikhtiar bersama tersebut diharapkan mampu mentransformasi fungsi layanan kesehatan dasar menjadi ruang peningkatan kapasitas masyarakat yang lebih inklusif.
“Intervensi tidak boleh berjalan kaku melainkan harus menyentuh sisi manusiawi serta dialogis,” ujarnya.
Pihak lembaga berkomitmen menghadirkan sistem pendampingan jangka panjang yang menempatkan figur bapak dan ibu sebagai benteng utama pertahanan kesehatan anak.
“Upaya melahirkan generasi cerdas dan berkualitas tinggi ini harus dimulai dengan mengidentifikasi akar masalah terkecil di lingkungan kita,” pungkasnya.*















