(PorosLombok.com) – Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia berdampak signifikan terhadap sektor pariwisata di Lombok Timur. Kondisi tersebut menyebabkan penurunan kunjungan wisatawan hingga sekitar 60 persen.
Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur, Widayat, mengatakan pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat dan wisatawan agar lebih bijak dalam memilih destinasi wisata di tengah cuaca yang tidak menentu.
“Prinsipnya, keselamatan harus menjadi prioritas utama. Jangan hanya berpikir rekreasi. Kalau cuaca mendukung, silakan berwisata. Tapi kalau cuaca tidak bagus, sebaiknya ditunda,” kata Widayat, Selasa (23/12/2025).
Ia menegaskan, wisatawan yang tetap ingin berlibur diminta memilih lokasi wisata dengan tingkat kerawanan rendah dan risiko yang minimal. Imbauan tersebut, menurutnya, turut berkontribusi pada penurunan jumlah kunjungan.
“Penurunan wisatawan mencapai sekitar 60 persen. Banyak yang memilih tinggal di rumah dan berkumpul dengan keluarga dibandingkan harus mengorbankan keselamatan. Alhamdulillah sampai saat ini belum ada korban, dan jangan sampai ada,” ujarnya.
Meski demikian, Widayat menyebut sektor pariwisata Lombok Timur belum sepenuhnya terpuruk. Kunjungan wisatawan mancanegara di beberapa wilayah masih relatif stabil. Di kawasan selatan Lombok Timur, tingkat hunian penginapan tercatat masih berada di kisaran 60 hingga 70 persen.
Sementara itu, di kawasan Sembalun, kunjungan wisatawan lokal pada akhir pekan masih tergolong baik, meskipun cuaca ekstrem masih kerap terjadi.
Menurut Widayat, wisatawan mancanegara memiliki pola kunjungan yang berbeda. Umumnya mereka datang ke Lombok Timur saat musim dingin di negara asalnya, terutama wisatawan asal Eropa.
“Sekarang juga muncul fenomena baru. Ada wisatawan asing yang datang bukan hanya untuk berwisata, tetapi untuk menekan biaya hidup. Tinggal di Lombok Timur jauh lebih murah bagi mereka,” jelasnya.
Ia mencontohkan, biaya homestay di Lombok Timur berkisar Rp250 ribu per malam atau sekitar Rp7,5 juta per bulan. Angka tersebut dinilai jauh lebih hemat dibandingkan biaya hidup di negara asal mereka yang bisa mencapai Rp40 hingga Rp50 juta per bulan.
Selain itu, Dinas Pariwisata Lombok Timur juga tengah menyiapkan pengembangan sektor pariwisata berbasis kesehatan. Salah satunya rencana pembangunan medical tourism di kawasan Ekas yang akan dikelola oleh pihak swasta.
“Masih dalam tahap perencanaan. Kami sudah mengirimkan data terkait jumlah kunjungan dan insiden yang pernah terjadi di kawasan tersebut. Mudah-mudahan bisa segera direalisasikan,” pungkasnya.
(arul/PorosLombok)













