PorosLombok.com – Festival Muharram 1447 H di Lombok Timur tak lagi sekadar ajang hiburan dan seremoni budaya.
Di balik riuh panggung dan keramaian stan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan KB (DP3AKB) tampil beda.
Lewat stan edukatif yang mereka buka, DP3AKB menggempur langsung isu krusial yang selama ini membayangi masa depan remaja: pernikahan usia anak.
“Kami tidak sekadar datang untuk meramaikan. Kami membawa misi besar: melawan pernikahan dini dan mengajak anak muda merancang masa depan mereka dengan sadar,” tegas Sekretaris DP3AKB Lotim, Baiq Husniatul, Jumat (27/6).
Stan DP3AKB langsung menyita perhatian. Bukan hanya menebar brosur atau spanduk, tapi memberikan layanan konsultasi langsung bagi pengunjung, terutama kalangan Gen Z. Bahkan, ada yang menyampaikan aduan seputar persoalan keluarga dan akses layanan KB.
“Begitu ada yang butuh layanan, kami langsung respon di tempat. Ini bukan sekadar kampanye, tapi pelayanan nyata,” ujarnya.
Baiq Husnul menyebutkan, angka pernikahan usia anak di beberapa wilayah Lombok Timur masih cukup tinggi. Karena itu, edukasi semacam ini harus terus diperluas dan dikemas dengan cara yang dekat dengan remaja.
“Program KB bukan cuma soal alat kontrasepsi. Ini soal bagaimana keluarga dirancang dengan bijak – berapa anak yang bisa diasuh, bagaimana pendidikannya, dan bagaimana ekonomi keluarga disiapkan,” ujarnya.
Untuk menyentuh anak muda lebih dalam, DP3AKB menggandeng komunitas Genre (Generasi Berencana). Pendekatan sebaya dengan gaya komunikasi khas anak muda dinilai efektif menjangkau mereka yang selama ini sulit disentuh lewat cara-cara formal.
“Kalau remaja sudah punya mimpi dan tahu tujuan hidupnya, mereka akan lebih bijak memutuskan kapan waktu yang tepat untuk menikah.”, kata Baiq Husnul.
“Kami ingin tanamkan itu. Karena berencana itu keren, bukan cuma slogan tempelan.” tambanya
DP3AKB menegaskan, Festival Muharram jangan hanya dijadikan rutinitas tahunan yang berhenti di panggung. Ia harus menjadi ruang edukatif, penuh nilai, dan menyasar isu-isu nyata yang dihadapi masyarakat.
“Jangan biarkan anak-anak kita menikah terburu-buru lalu menyesal di kemudian hari. Momentum seperti ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin,” tandas Baiq.
Menurutnya, masa depan Lombok Timur tak bisa dilepaskan dari kualitas keluarga yang dibangun hari ini.
“Hiburan boleh, tapi penyadaran jauh lebih penting. Karena perubahan dimulai dari keluarga yang direncanakan dengan baik,” pungkasnya.
(arul/PorosLombok)



















