LOTIM – PorosLombok.com | Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Vetarian pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lombok Timur, drh. Hultatang menyingingatkan masyarakat peternak untuk mengenali gangguan kesehatan pada hewan ternak, sapi.
Menurut Tatang, begitu ia karib disapa, salah satu gangguan kesehatan pada sapi, adalah cacingan (Fasciola sp) yang menggerogoti hati dan babat sapi yang tidak bisa dimusnahkan secara total.
Karenanya, pemeliharaan kesehatan serta perawatan terhadap ternak sapi harus dilakukan secara optimal dengan cara rutin memberikan obat cacing serta membersihkan kandang ternak secara rutin.
“Tradisinya masyarakat kita ini kan memberikan obat cacing pada sapi itu tidak terjadwal,” kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyatakat Veterinar, drh. Hultatang di Selong, Selasa (4/7/23).
Harusnya, sambung dia, pemberian obat cacing pada sapi idealnya dimulai sejak berumur tiga bulan. Selanjutnya pemberian obat cacing secara rutin dengan mempertimbangkan kondisi kandang.
“Jika kandangnya bersih, boleh diberikan obat cacing enam bulan sekali. Tapi kalo kandangnya kotor, maka harus diberikan tiga bulan sekali,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, cacing yang bersarang pada organ tubuh sapi akan menyedot sari-sari makanan, sehingga menyebabkan sapi menjadi kurus, meski diberikan makan sebanyak mungkin.
Dijelaskan lebih lanjut, sapi yang terjangkiti cacing bisa saja tidak mengalami penurunan napsu makan. Bahkan bisa sebaliknya, napsu makan sapi bisa lebih meningkat.
Untuk menilai apakah sapi itu cacingan atau tidak, caranya sangat sederhana, yaitu dengan melihat performance sapi. Pada umumnya, ternak menunjukkan gejala kurus, bulu kusam dan berdiri, diare atau bahkan sembelit.
Tatang mengurai, sapi yang sehat akan mengalami peningkatan berat badan. Sapi bali umumnya mengalami peningkatan berat badan minimal 0,5 kg/ hari. Sedangkan sapi eksotik minimal 1 kg/ hari.
Soal keuntungan, untuk sapi bali keuntungan per hari 25 ribu untuk penggemukan. Untuk sapi eksotik minimal 50 ribu per hari. Tinggal dihitung saja berapa keuntungan sebulan. Namun dengan adanya cacingan tidak ada kenaikan berat badan, malahan turun.
“Jadi masyarakat peternak itu sebenarnya tidak sadar kalo dia mengalami kerugian. Kalo kita hitung harga daging misalnya 125 ribu/ kilo, lalu kita kalikan satu bulan, sudah berapa kerugiannya,” paparnya.
Dia menyebutkan, berdasarkan data Kementerian Pertanian, masyarakat Indonesia (peternak) mengalami kerugian hingga ratusan miliar/ tahun, sebagai dampak cacingan pada sapi.
Kecenderungan masyarakat kita, ujar Tatang, hanya melihat dari napsu makannya saja, tidak melihat dari performa badannya. Meski badannya kurus tetapi jika napsu makannya bagus, maka dianggap seolah tidak ada masalah.
Kaitannya dengan itu, ia menilai, bahwa masyarakat peternak kita sesungguhnya tidak memiliki target dalam mengelola usahanya. Padahal, dengan memiliki target, maka peternak bisa melakukan pola penggemukan berdasarkan selisih berat selama tiga bulan.
“Peternak itu kalo mau untung harusnya punya target. O..kalo sudah tiga bulan saya harus panen. Maka saya harus memahami pola penggemukannya. Kalo seperti itu baru bisa untung,” tukasnya.
Saat yang sama, ia mengapresiasi masyarakat peternak yang ada di kecamatan Suela. Dia menyebut, bahwa peternak di wilayah itu memiliki pemahaman tentang pola penggemukan yang sangat luar biasa.
“Jadi masyarakat kita yang pola penggemukannya paling bagus itu di kecamatan Suela. Dia itu kalo baru beli sapi langsung disuntik, tiap bulan sapinya disuntik, lalu diloloh dua bulan sekali. Makanya mereka keuntungannya luar biasa,” demikian Hultatang.
(PL/anas)















