Lombok Timur, PorosLombok.com – Nasib garam lokal Lombok Timur masih memprihatinkan. Di tengah potensi besar yang dimiliki wilayah ini, produk garam rakyat justru kalah telak oleh garam impor yang membanjiri pasar.
Kondisi ini menjadi sorotan tajam dalam rapat koordinasi yang dipimpin langsung Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin, di Kantor Bupati. Senin (28/4).
“Garam lokal kita ini punya potensi luar biasa, tetapi faktanya belum mampu bersaing. Ini harus menjadi perhatian serius,” tegas Haerul dengan nada tinggi.
Menurutnya, persoalan utama terletak pada kualitas produksi. Banyak petani garam belum memahami standar pengolahan yang layak untuk pasar industri, apalagi ekspor. Akibatnya, garam lokal hanya berputar di pasar tradisional, tanpa nilai tambah.
“Petani butuh pelatihan, pembinaan, dan pendampingan. Jangan cuma disuruh produksi, tapi tidak diberi bekal keterampilan,” ucapnya.
Haerul juga menyoroti lemahnya perlindungan terhadap produk dalam negeri. Ia menilai dominasi garam impor di pasar lokal sebagai ancaman nyata bagi kelangsungan usaha petani garam di Lombok Timur.
“Kalau kualitas garam kita bagus, garam impor tidak akan laku. Ini bukan soal melarang impor, tapi soal meningkatkan daya saing,” cetusnya.
Ia mendesak organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk segera turun tangan. Program pelatihan teknis, fasilitasi alat produksi, hingga akses pasar harus segera digulirkan, bukan hanya berhenti pada rencana.
“Garam rakyat harus naik kelas. Ini soal keberpihakan. Jangan biarkan petani kita terus berjuang sendirian,” tandasnya.
Bupati yang dikenal vokal dalam isu ekonomi kerakyatan itu juga mengingatkan bahwa sektor garam menyimpan potensi besar dalam mendongkrak ekonomi pesisir. Ia meminta seluruh perangkat daerah tak sekadar membuat laporan manis, tetapi menghadirkan solusi nyata di lapangan.
“Saya tidak butuh janji. Saya butuh hasil. Kalau kita serius, garam lokal bisa jadi andalan, bukan terus-terusan jadi korban,” pungkasnya.
(arul/PorosLombok)















