(PorosLombok.com) – Gubernur Nusa Tenggara Barat menegaskan, pembangunan kereta gantung di Gunung Rinjani harus mendapat restu dan keberterimaan dari masyarakat.
Proyek ini dinilai potensial meningkatkan kunjungan wisata, namun tidak boleh mengabaikan aspek sosial, budaya, dan lingkungan.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik NTB, Yusran Hadi, mengatakan, audiensi dengan investor bersifat dua arah.
“Ini bukan sekadar menerima paparan proyek. Gubernur ingin memastikan semua aspek, termasuk non-teknis, dipahami investor,” ujarnya, Jumat (15/08).
Investor memaparkan rencana teknis pembangunan, operasional, dan estimasi dampak ekonomi dari kereta gantung. Presentasi ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk menilai kelayakan proyek.
Yusran menambahkan, proyek ini sebenarnya sudah diusulkan sebelum Gubernur dan Wakil Gubernur saat ini menjabat.
“Kini gubernur mendapatkan penjelasan langsung. Semua aspek akan dipelajari secara mendalam,” tegasnya.
Gubernur menekankan bahwa Rinjani bukan sekadar gunung. Rinjani adalah akar Pulau Lombok.
“Pesan non-teknis terkait filosofi dan budaya sangat penting agar pembangunan diterima masyarakat,” kata Yusran menirukan gubernur.
Selain itu, gubernur menegaskan bahwa proyek harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
“Wisata boleh berkembang, tapi kelestarian alam tidak boleh diabaikan,” ujar Yusran.
Pemerintah Provinsi NTB akan berkoordinasi intensif dengan pemerintah pusat terkait proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang tengah berlangsung di Kementerian LHK.
Koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan pendengar aspirasi masyarakat juga menjadi fokus utama. Hal ini untuk memastikan pembangunan kereta gantung berjalan transparan dan partisipatif.
Tujuan utama proyek ini adalah meningkatkan kunjungan wisata ke Rinjani. Namun, keberhasilan pembangunan dinilai tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari penerimaan masyarakat dan kelestarian alam.
Dengan langkah ini, Pemerintah Provinsi NTB menunjukkan sikap tegas. Pembangunan kereta gantung Rinjani harus sejalan dengan kearifan lokal, budaya, dan lingkungan, sehingga menjadi ikon wisata yang diterima semua pihak.
(Redaksi/PorosLombok)














