LOMBOK UTARA – PorosLombok.com | Gili Trawangan saat ini kembali menjadi sorotan pasca unggahan seorang Wisatawan yang mengklaim dirinya di tipu saat makan di Pasar Seni dengan bill tagihan mencapai Rp 1 juta.
Seperti dikutip dari akun Facebook (FB) Putri Setia di Group FB Gilipedia dia mengaku seolah ditipu oleh pedagang yang menjual makanan seafood di tempat itu.
“Mungkin disini ada yang bisa jelaskan, kenapa di Trawangan Night Market jadi seperti penipu ya pedagangnya?,” cuitnya dalam unggahannya.
Menjawab Persoalan itu, Sekjen Association Of Hospitality Leaders Indonesia (AHLI) dan Hotel Manager Assosiation (HMA)
di Gili Trawangan, Ahmad mengklaim permasalahan itu muncul imbas dari kurangnya perhatian Pemerintah Daerah (Pemda) Lombok Utara di Gili.
“Itu bagian kecil dari banyaknya masalah di Gili Tramena, dan memang itu bentuk dari ketidak seriusan Pemda mengelola Gili Tramena ini,” ucapnya menjawab PorosLombok.com, Selasa (27/6/2023).
Ahmad juga tidak menyalahkan pedagang yang ada di Pasar Seni, karena memang dari awal tidak ada harga yang dipatok khusus untuk setiap restoran yang ada di tempat itu.
Artinya, harga yang ada saat ini memang sudah menjadi harga dari restoran yang dikunjungi wisatawan.
Kasusnya, karena ketidak tauan wisatawan akan harga itu yang menjadi keluhan, dirinya juga tidak membenarkan atas apa yang dilakukan pihak restouran yang kadang mematok harga sampai 2x lipat dari harga normal.
“Itu kita tidak bisa salahkan pedagang yang kadang menaikkan harga, karena bisa jadi tamu itu mereka tidak tawar harga dulu, karena di pasar senin memang tidak ada patokan harganya,” jelasnya.
“Jadi kalau tamu yang makan disana entah itu lokal atau bule itu asal makan saja, disitu memang ada oknum yang mengambil keuntungan dengan kondisi ini, tidak melihat sisi fair dan tidaknya dengan tamu,” lanjutnya.
Hingga terhitung ada puluhan kasus laporan wisatawan yang mengeluh dengan keadaan itu, termasuk yang baru-baru ini dialami oleh akun Facebook Putri Setia.
Persoalan keluhan juga sudah selesai dan para pihak yang terlibat juga sudah minta maaf.
Terlebih lagi, mengenai itu juga saat ini sedang dibahas para pelaku wisata yang dimediasi langsung oleh Kepala Dusun setempat.
Masalahnya kata dia, setiap restouran tentu tidak ingin disamakan harga, mengingat kualitas sajian dan pelayanan restoran yang berbeda beda.
“Dari ujung ke ujung kan banyak restouran disana, masalahnya mau tidaknya mereka mematok harga untuk menu yang disajikan, kan mereka punya standarnya sendiri-sendiri,” jelasnya.
Akan tetapi, pembahasan yang sedang dilakukan agar punya standar harga maksimal untuk menu yang ada nanti.
“Semoga tidak terjadi lagi, di Gili sebenernya banyak sekali kita mau ngobrol dengan pemerintah dan banyak masalah yang muncul, yang membuat temen-temen di gili ini tidak srek,” katanya.
“Harapan saya, harusnya Pemda rangkul dulu kita, kumpulkan dulu kita dan pecahkan masalah yang ada disini bersama sama, dan kita pelaku wisata di gili sangat welcome terhadap itu,” demikian Ahmad.
Foto : Sekjen Association Of Hospitality Leaders Indonesia (AHLI) dan Hotel Manager Assosiation (HMA)
di Gili Trawangan, Ahmad.
(Yami Ulandari/PL)















