(PorosLombok.com) – Harga tembakau di Nusa Tenggara Barat (NTB) bikin petani kecewa. Daun coklat yang tahun lalu masih laku Rp34 ribu hingga Rp36 ribu per kilo, kini hanya dibeli Rp17 ribu.
Plt Kepala Dinas Pertanian NTB, Muhammad Riadi, menyebut perusahaan pembeli lebih dulu memburu tembakau premium karena stoknya terbatas. Setelah itu baru gudang dibuka untuk tembakau coklat.
“Perusahaan fokus dulu pada tembakau yang bagus karena jumlahnya sedikit. Kalau ambil coklat dulu, mereka takut kehilangan yang premium,” kata Riadi, Jumat (3/10/2025).
Ia menjelaskan, kondisi cuaca memperparah mutu panen tahun ini. Banyak daun bawah berubah coklat lebih cepat sehingga kualitasnya turun drastis.
“Musim tidak mendukung, kualitas daun coklat tahun ini lebih jelek dibanding tahun lalu,” tegasnya.
Turunnya kualitas langsung berimbas ke harga. Jika sebelumnya petani bisa mengantongi Rp4,5 juta per kwintal, kini hanya Rp600 ribu sampai Rp1 juta.
“Gap harga terlalu jauh. Wajar kalau petani kecewa,” ujar Riadi.
Meski begitu, Riadi memastikan tidak ada tembakau yang akan terbengkalai. Sepanjang sejarah, semua tembakau NTB selalu habis terbeli, baik premium maupun coklat.
“Tidak pernah ada tembakau yang tidak laku. Bedanya hanya di harga. Daun tengah harus lebih tinggi nilainya dibanding daun bawah, supaya ada subsidi silang,” jelasnya.
Di lapangan, keluhan petani makin nyaring terdengar. Mereka berharap pemerintah bisa turun tangan mencari solusi agar harga tembakau tidak terus membuat mereka gigit jari.
(arul/PorosLombok)
















