LOTIM – PorosLombok.com | Salah satu visi misi yang menjadi program prioritas pemerintahan Sukiman – Rumaksi adalah memberikan layanan kesehatan yang layak, berkualitas, dan berkeadilan. Untuk menunjang itu semua, maka dibutuhkan penguatan layanan kesehatan berupa peningkatan akses.
Upaya peningkatan akses ini dilakukan melalui pemenuhan tenaga kesehatan (nakes), peningkatan sarana pelayanan primer (Puskesmas, Rumah Sakit, dokter) pemenuhan prasarana pendukung (alat kesehatan, dan obat-obatan).
Saat ini hajatan mulia itu telah diimplementasikan dengan karya nyata melalui pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Selaparang, yang berlokasi di Desa Suela, Kecamatan Suela, Lombok Timur.
Setelah diresmikan oleh Bupati Lombok Timur HM. Sukiman Azmy pada 23 Mei 2023 lalu, manajemen RSUD Selaparang terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan berbagai fasilitas maupun prasarana sebagai penunjang dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat.

Direktur RSUD Selaparang dr. Ade Anugrah Karyana saat dikunjungi poroslombok.com mengutarakan, bahwa RSUD Selaparang adalah rumah sakit tipe D Pratama yang secara regulasi masih termasuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), hampir setara dengan Puskesmas.
“Tapi bedanya rumah sakit tipe D Pratama memiliki peralatan yang lebih lengkap,” kata dr. Ade Anugrah Karyana menjawab poroslombok.com, Rabu (16/8/2023).
Rumah Sakit tipe D Pratama, lanjut dr. Ade begitu ia karib disapa, merupakan tingkatan rumah sakit yang paling dasar dibawah tipe D, dan tidak wajib memiliki dokter spesialis. Namun, kata dia, jika ada dokter spesialis tentu menjadi nilai plus.
Saat ini, papar dr. Ade lagi, RSUD Selaparang memiliki 3 (tiga) dokter umum, dengan jumlah pegawai sebanyak 135 orang yang terdiri dari tenaga bidan, perawat, administrasi, satpam, petugas kebersihan dan lain-lain.
“Alhamdulillah dibanding dengan diawal-awal, saat ini secara profesi kita sudah hampir lengkap, kira-kira 80-85% dari kebutuhan,” sebutnya.
Diakui dokter Ade, bahwa pihaknya masih membutuhkan tenaga dokter. Karenanya, pihaknya sudah membuka rekrutment untuk dokter umum dan dokter gigi. Dirinya berharap agar secepatnya ada pelamar sesuai kualifikasi yang dibutuhkan.
Lanjut dia, RSUD Selaparang sudah teregistrasi/terdaftar di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dengan nomor kode fasyankes: 5203041 yang didapatkan pada bulan Juni lalu, termasuk juga sudah mengantongi ijin operasional dan ijin-ijin lainnya.
Selanjutnya terkait dengan kelengkapan alat kesehatan (alkes), secara umum sudah terpenuhi meski terdapat beberapa unit yang masih kurang, tetapi semuanya tengah berproses untuk dilengkapi.
“Ya kita sambil jalan lah sambil kita evaluasi apa saja kekurangannya untuk nanti kita ajukan. Insyaallah kekurangannya tidak terlalu signifikan dan saya pikir sesuai standar pelayanan, kita sudah pantas,” terangnya.
Ketersediaan tempat tidur di RSUD Selaparang berjumlah sebanyak 40 buah, yang terbagi menjadi 25 buah di ruang rawat inap dan sisanya terbagi di ruang UGD, ruang bersalin, dan kamar bayi.
Untuk diketahui, selain layanan rawat jalan, RSUD Selapang juga sudah membuka layanan di UGD dan rawat inap sejak tanggal 1 Agustus lalu, bahkan sudah buka 24 jam.
Hanya saja, jelas dia, pihaknya belum bisa menerima pasien dengan status BPJS karena hingga saat ini pihaknya masih dalam proses pengajuan untuk bekerjasama dengan BPJS kesehatan.
“Saat ini kita masih mencoba peluang untuk bekerjasama dengan BPJS. Beberapa persyaratan untuk pemberkasan sudah kita penuhi, mungkin tinggal dua persyaratan lagi. Insyaallah secepatnya bisa kita ajukan permohonan kerjasamanya,” demikian dr. Ade.
Sekadar informasi, RSUD ini dibangun di area seluas 2 hektar dengan dana Rp 64 miliar. Dana tersebut untuk fisik bangunan dua lantai seluas 46.000 meter² sebesar Rp 41 miliar dan untuk pengadaan alkes dan sarana prasarana sebesar Rp 23 miliar.
RSUD ini sendiri ditargetkan melayani masyarakat kecamatan Suela dan sekitarnya seperti Sembalun, Pringgabaya, serta Wanasaba.
(PL – anas)















