(PorosLombok.com) – Mayor (Purn) TNI N. Dirga, yang menjabat sebagai Bidang Hukum Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI dan Polri (PPABRI) NTB, menilai kemerdekaan RI ke-80 ini belum sepenuhnya terwujud di kehidupan nyata masyarakat.
Menurutnya, kemerdekaan Indonesia memang sah secara de jure, namun kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kemerdekaan secara de facto masih jauh dari harapan.
Ia menjelaskan bahwa fakta sosial seperti kemiskinan dan konflik antarkampung menjadi tanda bahwa tujuan kemerdekaan belum dirasakan merata oleh rakyat.
Hal ini, kata dia, menjadi pekerjaan besar yang memerlukan kesadaran dan komitmen bersama, baik pemerintah maupun masyarakat.
“Kalau secara de jure kita sudah merdeka. Tetapi secara de facto, saya rasa perlu dipertanyakan,” ujar Dirga Kepada PorosLombok, Selasa (12/8).
Menurutnya, tingginya angka kemiskinan di NTB adalah salah satu indikator yang jelas terlihat. Masyarakat yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar menandakan bahwa kemerdekaan yang diidamkan para pendiri bangsa belum sepenuhnya tercapai.
Selain masalah ekonomi, Dirga juga menyoroti terjadinya perang antarkampung di sejumlah daerah di NTB. Fenomena ini, menurutnya, mencerminkan masih lemahnya rasa persatuan dan kesadaran mengisi kemerdekaan dengan hal positif.
“Kalau masih ada perang kampung, berarti tidak ada istilah mengisi kemerdekaan dengan jiwa hati nurani yang baik dan tulus,” tegasnya.
Dirga menilai bahwa mengisi kemerdekaan tidak selalu identik dengan kegiatan besar atau biaya besar. Banyak langkah sederhana yang sebenarnya bisa dilakukan untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan menghormati jasa para pahlawan.
Salah satu contohnya adalah instruksi pemerintah pusat agar setiap pukul 10.00 WITA, masyarakat di kantor-kantor berdiri dan mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Menurutnya, hal sederhana ini memiliki makna yang mendalam bagi pembentukan karakter bangsa.
Dirga juga mengingatkan pentingnya instruksi pengibaran bendera Merah Putih di rumah masing-masing selama satu bulan penuh mulai 1 Agustus. Ia menilai, tradisi ini tidak membutuhkan biaya sama sekali, tetapi memiliki nilai simbolis yang besar.
“Itu tidak memerlukan biaya. Hanya mengibarkan bendera untuk menghargai pahlawan yang dulu berjuang, mengeluarkan keringat dan air mata demi kemerdekaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa para pahlawan telah berjuang dengan pengorbanan besar, bahkan mempertaruhkan nyawa, demi kemerdekaan Indonesia. Generasi sekarang, kata dia, memiliki tanggung jawab moral untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat.
Dirga berharap pemerintah, khususnya Pemprov NTB, memberikan edukasi yang intensif kepada generasi Z agar mereka memahami arti penting cinta tanah air.
Ia menegaskan, tanpa pemahaman itu, kemerdekaan hanya akan menjadi status formal tanpa makna yang mendalam.
(arul/PorosLombok)

















