POROSLOMBOK –
Terpesona, kesan pertama ketika melihat hasil karya Hidayaturrahim (32) Tahun wanita asal desa gelora, Kecamatan Sikur, Lotim yang menyulap sampah bekas menjadi Bonsai plastik yang indah di pandang mata. Ranting-ranting yang terbuat dari kawat dan daunnya dari sampah pelastik serta Pot dari olahan tanah liat ini terlihat seolah alami bak seperti aslinya.
Berawal dari hobi serta keprihatinannya melihat sampah yang berserakan disekitar rumahnya, memaksa Perempuan yang akrab dipanggil Ida ini berpikir bagaimana sampah ini bisa dimanfaatkan, dan bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk menambah biaya kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Pada 2010 silam Ida Membuat beberapa buah Bonsai pelastik dan ia pasarkan melalui Online Shop, tak disangka karyanya ini laku keras, bahkan sampai dirinya kewalahan dalam menangani pesanan konsumen setiap harinya.

Saat ditemui Poroslombok Ida menjelaskan bahan pertama yang digunakannya adalah plastik bekas yang dibuang dan sudah tidak terpakai, namun berkat tangan-tangan terampilnya ini ia mampu menyulapnya menjadi beberapa jenis bunga.
“Kisaran harga yang kami tawarkan dari 150 Ribu sampai dengan 3 Juta perbuahnya,”ucap ida Jumat (11/03)
Dalam sehari Ida hanya bisa membuat bonsai plastik satu buah saja, karena masing-masing karya seni bonsai ini berbeda-beda tingkat kesulitannya. Belum lagi ide kreasi yang dibuat juga beregam yang dimana harus mengandalkan daya imajinasi, agar hasilnya lebih maksimal.
Usaha bonsai plastik ini juga tidak terlepas dari dukungan penuh Pemerintah Desa (Pemdes), dalam hal ini Kepala Desa Gelora yang perduli terhadap para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Baik membantu mempromosikan dan dukungan permodalan.
Ida menjelaskan berbagai kolaborasi dengan Pemerintah Desa yang terus menerus membuatnya semangat untuk mengembangkan usaha ini, sehingga omzetnya beberapa tahun yang lalu tembus jutaan rupiah.
“Ya kita bersyukur pak kades selalu mensuport kami dan aktif memberikan masukan-masukan untuk mengembangkan usaha ini,” tandasnya.
Namun badai Pandemi 2020 yang lalu, membuat usaha bunga plastik ini lesu, sehingga omzetnyapun menurun hingga 80 Persen, karena mengingat masyarakat saat ini hanya fokus untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari.
Lebih lanjut Ida mengatakan saat ini omzet yang ia dapatkan hanya ratusan ribu rupiah perbulannya akan tetapi, hal ini tidak membuatnya harus patah semangat, karena perajin binaannya menggantungkan diri dari usah ini.
“Saya punya tiga orang pengerajin yang membantu membuat Bonsai plastik ini,” ucapnya sambil tersenyum penuh harap.
Kedepannya Ida berharap Pemerintah Daerah (Pemda) Baik Kabupaten ataupun Provinsi bisa memberikan pelatihan kepada para pelaku UMKM khususnya yang ada di Desa Gelora.
Saat ini Pemdes Gelora akan segera membantu kembali para pengerajin Bonsai plastik ini, baik dalam hal pendanaan dan promosi, mengingat hal ini juga untuk mendukung Program Zero Waste yang selama ini digaungkan oleh Pemprov NTB.
“Kami dari Pemerintah Desa berharap ada suport kembali dari Pemerintah Kabupaten ataupun Provinsi juga,”ucap nurasmat Kepala Desa Gelora menyambung keterangan Ida.
Sejak Covid-19 ini usaha Bonsai Plastik semakin tersendat-sendat, karena selain dana yang kurang, sumber dayanyapun masih terbatas. Maka dari itu pelatihan sangat dibutuhkan untuk masyarakat, agar usaha Bonsai plastik ini bisa berkembang pesat, apalagi ajang motoGP sebentar lagi akan digelar tentunya sebuah peluang besar memasarkan produk-produk ini.
Nurasmad mengatakan bahwa sebelumnya dirinya sudah masuk ke-semua hotel-hotel dan penginapan, khususnya yang ada di Desa Tetebatu, Tetebatu selatan dan beberapa Desa lainya, dan hal ini kata dia sudah berjalan, namun lagi-lagi Covid-19 membuat usaha ini harus terhenti untuk sementara.
“Yang jelas kami terkendala permodalan, kita mau suport namun apalah daya sebagian dana desa banyak dialihkan untuk penanganan Covid-19,” ujarnya
Kedepannya Untuk memaksimalkan usaha ini perlu adanya penambahan tenaga sehingga dalam satu hari Bonsai plastik ini bisa diproduksi Empat sampai Lima dalam seharinya.
Nurasmad berharap nanti Bonsai Plastik ini bisa menjadi Icon baru Desa Gelora dan dapat meningkatkan tarap hidup masyarakat, karena ini merupakan peluang usaha yang sangat luar biasa jika serius dikembangkan.
“Jadi nanti masyarakat bisa menjual sampah plastiknya kepada para pengerajin Bonsai Plastik ini, sehingga perputaran ekonomi di desa akan terus berjalan,” pungkasnya
(Arul | Poroslombok)

















