(PorosLombok) – Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah jadi sorotan. Bukan hanya soal pembangunan infrastruktur, tapi juga karena kembali menguatnya isu pemekaran wilayah yang sudah lama terpendam.
Ya, wacana pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa kembali menggema. Bukan sekadar wacana kosong, masyarakat di Pulau Sumbawa menyuarakan dengan lantang keinginan untuk berpisah dari NTB dan membentuk provinsi sendiri.
Bahkan, sejumlah pejabat di NTB pun terang-terangan mendukung rencana tersebut. Jika disetujui, Indonesia akan kedatangan provinsi baru: Provinsi Pulau Sumbawa.
Padahal, ide pemekaran ini bukan barang baru. Isu ini sudah hidup sejak bertahun-tahun lalu, tapi tak kunjung disahkan. Apa kendalanya? Jawabannya: moratorium pemekaran daerah dari pemerintah pusat yang hingga kini belum dicabut.
Namun begitu, geliat di akar rumput dan elite lokal tak bisa dibendung. Tekanan publik untuk memisahkan Pulau Sumbawa dari NTB kini makin kuat dan terstruktur.
Di tengah isu pemekaran ini, NTB juga tengah bersiap mencetak sejarah: membangun jalan tol pertama di wilayah ini.
Tak tanggung-tanggung, proyek bernama Tol Lembar-Kayangan ini diperkirakan bakal menghabiskan dana hingga Rp22 triliun! Jalan tol ini akan membentang sepanjang 80 kilometer, dari Pelabuhan Lembar di Lombok Barat hingga Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur.
Pembangunan jalan tol ini digadang-gadang menjadi solusi memperkuat konektivitas antarwilayah serta mendongkrak perekonomian lokal, terutama kawasan dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK) tertinggi di NTB.
Sebagai catatan, UMK Lombok Barat dan Lombok Timur tahun 2025 masing-masing mencapai Rp2.602.931 dan Rp2.608.714—naik 6,5 persen dari tahun sebelumnya.
Dengan anggaran jumbo dan desain ambisius, Jalan Tol Lembar-Kayangan diharapkan menjadi tulang punggung baru perekonomian NTB. Namun, bersamaan dengan itu, NTB juga harus bersiap menghadapi kemungkinan kehilangan separuh wilayahnya jika Provinsi Pulau Sumbawa benar-benar terwujud.
Dua gebrakan besar, dua arah masa depan: akankah NTB bertambah kuat, atau justru terbelah dua?
(Redaksi / PorosLombok)


















