PorosLombok.com – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur terus menggeber progres pembangunan pabrik porang yang digadang-gadang menjadi andalan industri pengolahan di wilayah timur NTB.
Pabrik yang dibangun menggunakan investasi sebesar Rp7 miliar ini sudah mulai membeli hasil panen petani sejak awal Juni 2025.
Kepala Dinas Perindustrian Lombok Timur, Azlan, menyebut langkah ini sebagai bentuk komitmen nyata pemerintah dalam membangun ekosistem porang dari hulu hingga hilir.
“Kita sudah mulai beli dari petani sejak awal bulan ini. Memang sempat ada sedikit keterlambatan, tapi sekarang proses pembelian sudah berjalan,” ujar Azlan kepada PorosLombok, Rabu kemarin. (25/6)
Harga porang juga mengalami lonjakan cukup tajam sejak pabrik mulai aktif menyerap. Dari sebelumnya hanya berkisar Rp4.500 hingga Rp5.000 per kilogram, kini sudah menembus angka Rp11.000 per kilogram.
Kenaikan ini membawa angin segar bagi petani lokal. Mereka tak hanya terbantu dari sisi harga, tetapi juga jaminan pasar melalui pabrik pengolahan milik pemerintah sendiri.
“Saat ini kami juga sudah menjalin kontrak kerja sama dengan pengusaha porang dari Dompu. Targetnya bisa suplai 200 ton selama musim panen ini,” jelas Azlan.
Untuk mempercepat pasokan, Pemkab juga sudah mulai mendatangkan porang dari daerah lain. Beberapa waktu lalu, bahan baku dari Bima telah tiba untuk mencukupi kebutuhan awal pabrik.
Namun, Azlan mengakui masih ada satu tantangan utama yang menghambat operasional maksimal, yaitu kapasitas daya listrik yang belum memadai untuk menghidupkan mesin sepenuhnya.
“Kapasitas listrik yang disiapkan awalnya hanya untuk 50 ton per hari, ternyata mesin yang datang bisa sampai 80 ton. Jadi harus ada penyesuaian daya,” tegasnya.
Ia menyebut proses peningkatan daya listrik saat ini sedang berjalan dan sudah masuk dalam sistem penganggaran. Jika rampung, pabrik dipastikan bisa berproduksi penuh sesuai kapasitas maksimal mesin.
“Ini bukan proyek coba-coba. Nilai investasinya sudah besar, jadi harus benar-benar kita kawal agar bisa memberi dampak nyata ke masyarakat,” imbuh Azlan.
Terkait seremoni peluncuran resmi (launching), pihaknya menegaskan bahwa hal itu hanya urusan teknis. Fokus utama saat ini adalah memastikan pabrik bisa menyerap hasil petani lebih luas dan konsisten.
“Launching itu tidak wajib, sifatnya hanya seremoni. Tapi tetap akan kami lakukan sambil menunggu kesiapan dari Kementerian Perindustrian, terutama soal dukungan bibit,” kata Azlan.
Persiapan di sektor hulu juga mulai dipikirkan. Dinas Pertanian Lombok Timur disebut akan mulai menganggarkan penyediaan bibit porang untuk musim tanam berikutnya.
Sementara itu, akademisi dari Universitas Mataram, Prof Suwardi, turut membantu memastikan keberlanjutan industri porang dengan mendorong penggunaan bibit lokal yang lebih adaptif terhadap kondisi tanah dan iklim di NTB.
“Kalau bibit dari Jawa atau luar daerah, itu tingkat gagal tumbuhnya lebih tinggi. Makanya kita upayakan pakai bibit lokal agar lebih cocok,” pungkas Azlan.
(arul/PorosLombok)



















