PorosLombok.com — Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat berlangsung khidmat sekaligus sarat nuansa empati. Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal tampil menyita perhatian publik karena mengenakan pakaian adat Manggarai saat bertindak sebagai Inspektur Upacara, Senin (17/8/2026).
“Pakaian adat Manggarai ini kami kenakan sebagai bentuk solidaritas kepada masyarakat Manggarai yang sedang menghadapi bencana. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Manggarai tidak sendiri. Kita bersama-sama dengan mereka dalam situasi sulit ini,” kata Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal.
Langkah tak biasa pimpinan daerah ini merupakan simbol duka cita mendalam atas musibah gempa bumi magnitudo 7,7 yang baru saja mengguncang Nusa Tenggara Timur. Seluruh peserta upacara yang terdiri dari jajaran TNI, Polri, ASN, hingga jajaran pelajar tampak membaur larut dalam rasa kebersamaan serta solidaritas senasib sepenanggungan antarwilayah.
“Kuat ya, kita bersama-sama ya,” ujar Iqbal.
Di tengah rangkaian acara yang sakral, keteguhan para anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka Provinsi NTB berhasil memukau para tamu undangan yang hadir di lokasi. Kibaran Sang Merah Putih di angkasa tidak hanya dimaknai sebagai perayaan kebebasan, tetapi juga penanda kokohnya tali persaudaraan antardaerah di kawasan Kepulauan Nusa Tenggara.
“Melalui momentum ini, secara khusus saya mengajak seluruh peserta upacara untuk mendoakan warga Nusa Tenggara Timur yang dilanda gempa bumi,” tuturnya.
Usai barisan upacara dibubarkan, Gubernur Iqbal bersama Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri melangkah keluar halaman kantor pemerintahan. Kedatangan rombongan pejabat daerah ini disambut oleh aksi teatrikal belasungkawa yang digelar oleh kelompok masyarakat asal Nusa Tenggara Timur di Mataram.
“Jangan menangis. Kuat ya,” kata Iqbal.
Suasana haru pecah saat mantan Dubes RI untuk Turki tersebut langsung menerobos barisan protokoler demi mendekati seorang anak laki-laki yang menangis sesenggukan. Tanpa ragu, orang nomor satu di NTB tersebut merangkul dan mengusap air mata sang anak sembari membisikkan kata-kata penguat jiwa.
“Tahun 2018 kita menghadapi gempa luar biasa di NTB. Kita adalah salah satu daerah yang paling tahu rasanya menghadapi situasi berat seperti itu. Kita paling paham bagaimana pentingnya solidaritas dari saudara-saudara kita,” ucapnya.
Menurut sosok pimpinan daerah Lombok tersebut, luka mendalam akibat bencana alam merupakan memori kolektif yang pernah menghancurkan berbagai infrastruktur NTB pada beberapa tahun lalu. Pengalaman pahit masa lalu itulah yang memanggil jiwa kemanusiaan warga NTB untuk bergerak cepat mengulurkan tangan bagi para korban terdampak.
“Satu sakit, yang lain ikut merasakan sakit. Kita bangun rasa persaudaraan dan solidaritas antardaerah,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi NTB kini telah menyiagakan serta mengirimkan berbagai bantuan darurat lintas sektor menuju titik-titik bencana terparah di NTT. Pengiriman bantuan logistik, tenaga medis, serta armada penyelamat melibatkan kerja sama ketat antara BPBD, institusi TNI-Polri, dan jajaran sukarelawan daerah.
“Ini yang hadir bukan lagi atas nama instansi, melainkan atas nama satu NTB,” terangnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri memberikan penekanan khusus terkait penggalangan aksi kepedulian yang diinisiasi oleh deretan pemuda lintas provinsi. Mantan Bupati Bima tersebut menilai kebersamaan pemuda Bali, NTB, dan NTT merupakan modal sosial yang sangat berharga.
“Aksi solidaritas anak-anak muda dari NTB, NTT, dan Bali ini memancarkan pesan yang sangat kuat bahwa persaudaraan kita melintasi batas wilayah administrasi,” ungkap Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri.
Pendamping kepemimpinan NTB tersebut menegaskan bahwa aksi teaterikal serta bentangan spanduk empati merupakan ekspresi murni dari kepekaan generasi muda. Menurutnya, pemuda NTB selalu siap pasang badan untuk membantu daerah tetangga yang sedang tertimpa musibah dahsyat.
“Ketika saudara kita di NTT tertimpa musibah gempa, rasa sakit itu merambat sampai ke hati masyarakat NTB,” jelasnya.
Sikap saling menopang ini dinilai sebagai bukti nyata bahwa nilai-nilai Pancasila hidup secara aktif di tengah masyarakat Kepulauan Nusa Tenggara. Kerja sama penanganan bencana pun dipastikan akan terus mengalir tanpa hambatan birokrasi yang menyulitkan para korban di lapangan.
“Kami ingin memastikan seluruh warga yang terdampak di NTT merasakan bahwa mereka memiliki saudara yang siap membantu di NTB,” ungkapnya.
Perempuan yang akrab disapa Umi Dinda ini menambahkan bahwa Pemprov NTB mengoordinasikan seluruh bantuan logistik agar bisa terdistribusi secara tepat sasaran. Berbagai bantuan prioritas mulai dari obat-obatan, tenda pengungsian, hingga selimut tebal langsung diberangkatkan melalui jalur laut dan udara.
“Posko kemanusiaan sudah kami buka dan seluruh elemen masyarakat NTB bergerak bersama mengumpulkan bantuan,” terangnya.
Integrasi bantuan medis juga menjadi prioritas utama mengingat banyaknya korban luka-luka yang membutuhkan perawatan darurat di area bencana. Jajaran dokter spesialis dan perawat berpengalaman dari NTB telah diterjunkan langsung ke lokasi-lokasi terisolasi.
“Rumah sakit dan tenaga kesehatan kita sudah siap siagakan untuk membackup penanganan medis korban gempa,” urainya.
Mantan pimpinan daerah Bima ini berharap penyaluran bantuan kemanusiaan tersebut dapat meringankan beban hidup para pengungsi di daerah bencana. Momen perayaan kemerdekaan kali ini dirasa menjadi ajang pembuktian ketangguhan bangsa Indonesia dalam menghadapi ujian alam.
“Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika kita sanggup berdiri bersama dan saling menguatkan di masa-masa sulit,” serunya.
Pemprov NTB juga membuka ruang seluas-luasnya bagi dunia usaha dan perguruan tinggi yang ingin menyalurkan dana kepedulian sosial. Sinergi seluruh komponen masyarakat dianggap menjadi kunci utama percepatan pemulihan pascabencana di NTT.
“Seluruh bantuan akan disalurkan secara transparan dan fokus pada kebutuhan mendesak para korban di pengungsian,” tuturnya.
Di akhir keterangannya, tokoh perempuan NTB ini menyampaikan optimisme tinggi bahwa warga terdampak gempa di NTT akan segera bangkit dari keterpurukan. Semangat gotong royong antardaerah disebutnya sebagai benteng pertahanan terkuat bangsa Indonesia.
“Semoga saudara-saudara kita di NTT diberikan ketabahan dan kekuatan untuk melewati masa sulit ini,” katanya.
Seluruh aksi nyata dan sinergi kemanusiaan ini menutup rangkaian peringatan kemerdekaan Indonesia di wilayah Nusa Tenggara Barat dengan penuh makna mendalam. Merah putih tidak sekadar berkibar di tiang tertinggi, tetapi juga tertanam kuat dalam aksi kepedulian antar-sesama anak bangsa.
“NTT tidak sendiri, NTB akan terus bersamanya hingga kondisi benar-benar pulih,” pungkasnya.*

















