Para Pedagang Ramai-ramai Tolak Kepala Pasar Sakra Yang Baru, Begini Alasannya

LOTIM – Poroslombok.com | Pergantian Kepala Pasar Pegondang Sakra, Kecamatan Sakra, Lombok Timur tuai penolakan dari hampir semua pedagang. Penolakan itu tentu saja atas beberapa alasan.

Ica, seorang pedagang konveksi yang dimintai keterangannya menyatakan, bahwa alasannya menolak pergantian kepala pasar karna ia dan semua pedagang sudah merasa nyaman dengan kepala pasar sebelumnya.

“Kita belum bisa menilai kinerja pasar yang baru, karna kan dia baru masuk. Tapi, kita sudah sangat merasa nyaman dengan kepala pasar yang sebelumnya (Haeruman-red),” tuturnya, Kamis (19/01/23).

Menurut penilaian Ica, sosok Haeruman (kepala pasar sebelumnya) adalah yang paling baik kinerjanya dalam beberapa kali pergantian kepala pasar sakra.

Pasalnya, meski dikenal dengan karakternya yang keras, namun dibalik itu Haeruman memiliki sikap mengayomi para pedagang. Ketika ada keluhan pedagang, ia (Haeruman-red) akan merespon dengan cepat.

Bukan hanya merespon dengan kata-kata, melainkan akan memberikan tindak lanjut yang dibarengi dengan tindakan nyata sebagai bentuk tanggungjawab dia sebagai seorang kepala pasar.

“Kalo kepala pasar sebelum pak Haeruman, dalam satu minggu itu kadang sampai tiga kali orang kecolongan (kecurian) di sini,” kata Harniwati, yang juga seorang pedagang konveksi asal Desa Sakra ikut menimpali.

Lanjut Harniwati, semenjak kepala pasar dipegang oleh Haeruman, tak pernah lagi terdengar ada pedagang yang kecurian barang-barang dagangannya. Bukan itu saja, kebersihan dan kenyamanan para pedagang selalu diperhatikan.

Tak sampai di situ, Harniwati juga mengagumi sikap Haeruman yang bisa mengerti dan memahami situasi dan kondisi usaha dagang yang pasti mengalami pasang surut. Karna itu, Haeruman disebutnya pantang memaksa pedagang untuk membayar retribusi.

“Kita paham itu adalah kewajiban kita sebagai pedagang untuk membayar retribusi. Tapi dia (Haeruman) akan memberikan toleransi kalo jualan kita lagi sepi. Tapi tetap kita bayar kewajiban kita itu” akunya.

Lantaran itu, Ica maupun Harniwati berharap agar pergantian kepala pasar sakra dibatalkan dan berharap supaya Haeruman bisa ditunjuk kembali sebagai kepala pasar sakra, untuk melanjutkan hal baik yang sudah ditata dengan baik selama ini.

Hal senada juga disampaikan Ibu Tiwi pedagang asli Sakra. Menurut dia, dari beberapa kali pergantian kepala pasar, dirinya sangat merasa nyaman saat dipegang oleh Haeruman.

“Kan sudah sering gonta-ganti kepala pasar, tapi yang sebelum-sebelumnya sering ada kemalingan. Tapi semenjak pak Haeruman tidak pernah ada yang kemalingan,” tutur Tiwi.

Tiwi juga mengakui sikap pengertian yang dimiliki Haeruman yang tidak suka memaksa pedagang membayar kewajibannya disaat sepi pembeli. Selain memberi toleransi, Haeruman juga disebutnya selalu mendengar aspirasi dan keluhan para pedagang.

Di tempat sama, ketua persatuan pedagang pasar sakra yang biasa dipanggil Bapak Angga ikut buka suara. Menurut dia, tak masalah baginya siapapun yang jadi kepala pasar. Akan tetapi, dirinya mengkhawatirkan keamanan dari gangguan pencuri pasca pergantian kepala pasar.

Masih kata dia, pasca pergantian kepala pasar sudah terjadi riak-riak di sekitar lingkungan pasar. Beberapa oknum yang dikenalnya sebagai orang yang ringan tangan (suka mencuri) sudah menebar ancaman akan membuat kondisi pasar tidak kondusif, alias membuat pedagang was-was.

“Kalo pak Haeruman dulu tidak bisa diancam. Kalo diancam, dia akan ancam balik. Intinya keamanan pasar bisa dihandle sama dia,” ujarnya.

Karena itu, bukannya meremehkan kepala pasar yang baru, tetapi Bapak Angga merasa tidak yakin jika kapas yang baru bisa memberikan rasa aman dan nyaman kepada pedagang, lantaran kapas yang baru belum mengenal karakter orang sekitar juga belum menguasai medan.

Masih di tempat sama, Sahdi, yang sudah puluhan tahun bertugas sebagai penjaga malam dan juru parkir di pasar sakra mengaku terkejut dengan pergantian kepala pasar yang sangat tiba-tiba. Apalagi,

“Kok tiba-tiba saja ada pergantian tanpa ada permisinya. Harusnya kan ada pemberitahuan terlebih dulu, ya setidaknya satu minggu sebelum diganti ada pemberitahuan,” ketusnya.

Disampaikan Sahdi, sebagai orang yang sudah lama mengais rizki di pasar tersebut, dirinya tentu mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing orang yang pernah menjabat kepala pasar sakra.

Namun sosok Haeruman menjadi yang paling berkesan dimata Sahdi. Menurutnya, Haeruman adalah sosok kepala pasar yang disegani karna ketegasannya, pengertiannya serta mampu berbaur dengan semua unsur yang ada di lingkungan pasar sakra.

“Selama dia di sini, kebersihan, keamanan dan kenyamanan sangat terjaga. Nah kalo yang baru ini saya tidak tau, tapi kalo bisa supaya Haeruman dikembalikan karna kita semua di sini sudah nyaman bekerja sama dia,” tandasnya.

Saiful Bahri kepala pasar sakra yang baru.

Sementara itu, Saiful Bahri, yang baru satu minggu menjabat sebagai kepala pasar sakra saat dikonfirmasi poroslombok.com di ruang kerjanya menanggapi santai aksi penolakan itu, dan menganggapnya sebagai hal yang lumrah terjadi.

“Biasa saja. Karna kan kita orang baru, jadi mungkin belum saling mengenal saja, dan saya juga baru mulai bekerja,” ucapnya.

Disinggung soal keraguan para pedagang soal keamanan, dirinya memberi keyakinan dan berjanji akan berusaha untuk memberikan keamanan dan kenyamanan sebagaimana yang diharapkan para pedagang.

“InsyaAllah kita akan lanjutkan, bahkan harapan saya pribadi, mudah-mudahan bisa lebih baik lagi dari yang sebelumnya,” jawabnya singkat.

(PL-anas)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU