(PorosLombok.com) – Peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia di Kecamatan Keruak, Lombok Timur berlangsung meriah. Berbagai jenis lomba digelar dan selalu dipadati penonton yang memadati jalan-jalan protokol.
Antusiasme masyarakat membuat suasana perayaan semakin semarak dari tahun-tahun sebelumnya.
Ketua Panitia, Lalu Muhyi Lutfi, menyebut partisipasi warga yang begitu tinggi menjadi salah satu kunci suksesnya acara.
Ia menilai, tidak hanya anak-anak, tetapi orang tua hingga lansia ikut turun menyaksikan jalannya perlombaan.
“Alhamdulillah, animo masyarakat di Keruak luar biasa. Orang tua sampai anak-anak turun ke jalan menonton lomba,” katanya, Senin (18/8).
Panitia menyiapkan enam mata lomba untuk tingkat Sekolah Dasar (SD). Di antaranya adalah gerak jalan, pawai, tari kreasi, Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), catur, dan da’i cilik.
Untuk jenjang SMP sederajat, terdapat tujuh lomba yang dilombakan, termasuk puisi dan nyanyi solo.
“Khusus untuk gerak jalan tingkat SD, peserta dibagi menjadi dua zona, Utara dan Selatan, karena jumlahnya sangat banyak,” jelas Lalu Muhyi.
Selain itu, perlombaan di tingkat SMP dan SMA dijadwalkan berlangsung pada Selasa (19/8). Panitia memastikan seluruh lomba rutin digelar setiap tahun, kecuali FTBI yang baru dimasukkan pada tahun ini.
“Juara FTBI otomatis akan mewakili Keruak ke tingkat kabupaten hingga provinsi,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala UPT Dikbud Keruak, Jaya Hiswadi, menilai FTBI yang menampilkan salah satu item gendang beleq sangat penting untuk dikembangkan.
Menurutnya, lomba tersebut memiliki potensi untuk menjadi ajang berjenjang hingga tingkat provinsi.
“Event gendang beleq ini sangat penting karena akan terus berlanjut sampai ke tingkat provinsi,” tegasnya.
Jaya menambahkan, penguatan seni budaya dan adat istiadat harus lebih digencarkan. Hal itu bukan hanya untuk menjaga identitas suku Sasak, melainkan juga bisa menjadi keterampilan hidup yang bermanfaat bagi anak-anak sebagai generasi penerus.
“Saya sudah sampaikan kepada semua kepala sekolah, kami siap memfasilitasi dan melatih anak-anak,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar para peserta yang belum meraih juara tidak berkecil hati. Menurutnya, setiap perlombaan pasti ada yang kalah dan ada yang menang, sehingga semangat kebersamaan dan nasionalisme lebih penting daripada sekadar hasil.
“Lomba bukan semata soal menang atau kalah, tapi bentuk syukur atas kemerdekaan, menumbuhkan nasionalisme, dan mempererat persatuan,” ucapnya.
Jaya mengungkapkan, banyak peserta yang gagal meraih juara bukan karena penampilan mereka buruk, melainkan karena melanggar aturan teknis yang sudah ditetapkan.
Salah satunya adalah penggunaan variasi gerakan yang tidak sesuai dengan ketentuan lomba.
“Misalnya sudah diingatkan jangan terlalu banyak variasi di luar pos yang ditentukan, tapi masih dilakukan. Itu pelanggaran,” tandasnya.
(anas/PorosLombok)

















