close

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

24.6 C
Jakarta
Kamis, Januari 22, 2026

Sembalun Dipoles Budaya, Wisata Tak Cuma Soal Rinjani

(PorosLombok.com) – Sembalun, Lombok Timur, mulai menggeser wajah wisatanya. Kawasan kaki Gunung Rinjani ini tak lagi hanya mengandalkan udara dingin, kebun stroberi, dan jalur pendakian. Atraksi seni budaya kini disiapkan sebagai magnet baru bagi wisatawan.

Langkah itu ditandai dengan peluncuran pertunjukan musik tradisional dan tari-tarian khas Sembalun oleh Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, di Resto Mahakala, Desa Sembalun Bumbung, Sabtu (27/12/2025).

Edwin menegaskan, pengembangan wisata harus keluar dari pola lama. Alam penting, tapi tidak cukup. Budaya, kata dia, harus ikut dihidupkan agar wisatawan punya alasan tinggal lebih lama.

“Wisata jangan cuma soal datang, foto, lalu pulang. Harus ada pengalaman yang dibawa,” tegas Edwin.

Ia mendorong kolaborasi pentahelix—pemerintah, pelaku usaha, media, akademisi, dan komunitas—sebagai kunci menggerakkan pariwisata berbasis budaya.

Edwin juga mengapresiasi pelaku usaha yang memberi ruang bagi anak-anak muda Sembalun untuk tampil dan belajar di panggung terbuka.

Menurutnya, atraksi budaya semestinya dijadikan agenda rutin, terutama pada akhir pekan. Dengan begitu, wisatawan tidak hanya menikmati Rinjani, tetapi juga mengenal identitas budaya Sembalun.

Sebagai daerah penyangga destinasi prioritas, Sembalun dinilai punya posisi strategis. Atraksi rutin seperti Tari Tandang Mendet diyakini mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan dan menggerakkan ekonomi lokal.

Dukungan datang dari Sanggar Aldakmas Sembalun. Ketua Pembina Sanggar, Rolansyah, menyebut panggung terbuka sebagai ruang penting bagi regenerasi seniman muda.

“Kami angkat potensi asli Sembalun, seperti Tari Tandang Mendet, Tari Slogok, dan Tari Pangkureyong. Selama ini kami tampil kalau ada undangan. Sekarang anak-anak punya tempat belajar dan melatih mental,” ujarnya.

Rolansyah berharap dukungan pemerintah tidak berhenti di seremoni, tetapi menyentuh langsung seniman dan pengrajin di tingkat bawah.

Sementara itu, Owner Mahakala, Naopal, mengatakan inisiatif ini lahir dari kebutuhan wisata berbasis pengalaman. Mahakala kini dilengkapi amfiteater berkapasitas sekitar 250 hingga 300 penonton.

“Kami ingin Sembalun punya aktivitas. Bukan sekadar tempat singgah. Bahkan yang tidak suka mendaki, sekarang tetap punya alasan datang,” katanya.

Atraksi budaya ini bisa dinikmati wisatawan melalui latihan terbuka setiap Senin, Rabu, dan Jumat sore secara gratis. Pentas utama digelar setiap Sabtu.

Dengan konsep ini, Sembalun mulai melangkah sebagai destinasi wisata yang lebih lengkap. Alam tetap jadi andalan, budaya naik panggung. Wisata tak lagi cuma soal Rinjani.

(Redaksi/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

IKLAN
TERPOPULER