PorosLombok.com – Isu tentang adanya pihak yang “membisikkan” instruksi kepada Bupati Lombok Timur, Drs H Haerul Warisin, saat mengusir para guide dari Lombok Tengah di kawasan Pantai Ekas. Kabar tersebut ramai diperbincangkan setelah video insiden itu viral di media sosial.
“Isu pembisik itu tidak benar. Pak Bupati bertindak berdasarkan keluhan langsung dari pelaku wisata lokal,” tegas Staf Khusus Bupati Bidang Pariwisata, Ahmad Roji, S.E kepada PorosLombok, Rabu (18/6).
Menurutnya, saat insiden terjadi, Bupati sedang berada di atas kapal meninjau kondisi kawasan wisata Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru. Di sanalah Bupati menerima curhatan dari para pelaku wisata lokal yang merasa tergeser oleh guide dari luar daerah.
Respons Bupati disebut sebagai tindakan spontan, bukan berdasarkan arahan siapa pun. Ia memastikan tidak ada skenario atau settingan di balik aksi tersebut.
“Itu murni naluri kepemimpinan. Nggak ada yang menyuruh atau mengarahkan,” ujarnya.
Ia menilai, tudingan soal ada pembisik justru merendahkan kapasitas pemimpin daerah yang memiliki pengalaman panjang di pemerintahan. Ia menyebut Haerul Warisin sebagai tokoh yang sudah sangat matang dalam birokrasi.
“Beliau bukan orang baru. Pernah jadi Wakil Bupati, DPRD Provinsi, dan sekarang Bupati. Masa mau diarahkan pembisik?” katanya.
Lebih lanjut, ia juga menepis dugaan bahwa tindakan Bupati hanya untuk mencari sensasi atau konten viral. Ia menyebut Bupati sedang menjalankan fungsi sebagai kepala daerah yang berpihak pada masyarakatnya sendiri.
Ahmad Roji menegaskan tidak ada transaksi, tidak ada bayaran, dan tidak ada pihak luar yang bermain di balik keputusan tersebut.
“Bupati hanya ingin memastikan pelaku wisata lokal tetap punya ruang dan perlindungan. Itu saja,” tegasnya lagi.
Diketahui, video Bupati Lotim meminta guide dari Lombok Tengah untuk meninggalkan area wisata Ekas sempat menyebar luas di media sosial. Aksi itu menimbulkan pro dan kontra, hingga muncul tudingan bahwa Bupati “dibisikkan” oleh pihak tertentu untuk mengambil sikap tersebut.
Namun Pemkab Lotim memastikan, tidak ada intervensi maupun skenario politik di balik peristiwa tersebut. Semua murni respons lapangan atas keluhan masyarakat.
(arul/PorosLombok)















