Status Bumi Mendidih dari PBB Bukan Penyebab Maraknya Kebakaran Lahan di Lotim

LOMBOK TIMUR – PorosLombok.com | Perserikatan Bangsa Bangsa telah mengeluarkan stetmen yang mengatakan saat ini dunia telah bergeser dari era pemanasan global menjadi pendidihan global.

Pergeseran era tersebut berbanding lurus dengan maraknya kejadian kebakaran lahan dan hutan di Lombok Timur, dimana dalam beberapa minggu terakhir di bulan Agustus 2023 tercatat sebanyak 205 hektar lahan terbakar di Gunung Rinjani.

Kebakaran juga terjadi di lahan milik warga di sejumlah Kecamatan seperti Terara, Montong Gading, hingga dengan Pringgabaya, Lombok Timur.

Menyoal permasalahan itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Timur menyebut kebakaran yang terjadi bukan karena status pendidihan global saat ini.

“Status itu tidak menjadi penyebab terjadinya beberapa kebakaran
lahan dan hutan yang minggu-minggu terakhir melanda di Lombok Timur, karena sampai sejauh ini khususnya di Pulau Lombok apalagi di Lombok Timur sih belum mengarah ke sana (pendidihan global),” ucap Kalak BPBD Lombok Timur, Lalu Muliadi, Senin (14/8/2023).

Dijelaskannya, sesuai dengan instruksi dari Kepala BNPB bahwa wilayah hutan yang beresiko terdampak status pendidihan global itu ada di Pulau Sumatera dan pulau Kalimantan. Ia menjelaskan, kebakaran yang terjadi beberapa minggu terakhir di Lombok Timur sifatnya banyak terjadi di permukaan saja.

Hingga, kondisi tersebut mengakibatkan pihaknya belum bisa menyimpulkan bahwa kebakaran terjadi imbas pendidihan global tersebut.

“Paling yang bisa kita simpulkan secara umum bahwa penyebab kebakaran itu ada dua hal yaitu disebabkan oleh faktor alam dan yang kedua disebabkan oleh  keteledoran atau kelalaian dari manusia,” jelasnya.

Kebakaran digunung rinjani juga menjadi perhatian, namun secara garis besar kata dia, hal itu imbas dari musim el nino yang melanda.

“Apa dampak dari el nino yaitu pertama intensitas curah hujan sangat sedikit, namun intensitas sinar matahari yang sangat tinggi,” katanya.

“Belum lagi frekuensi atau fluktuasi waktu dari kemarau el nino itu sangat berdampak pada degradasi lingkungan, bilamana degradasi lingkungan terjadi itu yang menjadi pemicu terjadinya kebakaran,” lanjutnya.

Kebakaran yang terjadi saat ini jelasnya, lebih bersifat alami yang disebabkan oleh musim atau cuaca el nino disertai dengan status kemarau panjang.

Ditanya terkait kemungkinan berefeknya status pendidihan gelobal di NTB, dan Lombok Timur secara khususnya, Muliadi masih menunggu informasi resmi dari BMKG pusat.

“Terutama yang menyangkut tentang
klimatologi dan geofisika, itu yang akan menjadi acuan bersama kita, saat ini informasi yang masuk ke BPBD Lotim belum ada, kita masih menunggu informasi dari kepala BNPB sebagai dasar kita melakukan himbauan kepada masyarakat,” demikian Muliadi.

(Yami Ulandari/PL)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU