Mataram, PorosLombok.com– Ketua Umum PB NWDI, Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi (TGB), tak memilih pesta atau tepuk tangan di hari ulang tahunnya ke-53. justru seruan melawan kejahatan seksual di pesantren, di Kantor PB NWDI, Mataram, Sabtu (31/5).
Dalam Silaturahim Majelis Dakwah yang dihadiri para ulama, tuan guru, dan kader dari seluruh NTB, TGB menyebut praktik kekerasan seksual di lembaga pendidikan sebagai kejahatan kelas berat.
“Itu pengkhianatan terhadap Allah, pengkhianatan terhadap amanah umat. Harus diperangi habis-habisan!” tegasnya, disambut takbir hadirin.
TGB menilai, jika pesantren sampai ternoda oleh predator seksual berkedok ustaz, maka itu bukan hanya krisis moral—tapi bencana keummatan. Ia menegaskan perlunya sistem yang kuat untuk mendeteksi, mencegah, dan menghukum pelaku.
Sebagai respons, TGB meluncurkan Lajnah al-Hisbah, sebuah lembaga pengawasan internal PB NWDI yang akan bekerja seperti “satgas moral” untuk menjaga kemurnian pesantren dan keselamatan santri.
Tak berhenti di situ, TGB juga menyampaikan sikap tegas NWDI menolak praktik pernikahan dini, yang dianggap sebagai pintu masuk kemiskinan struktural dan kerusakan masa depan anak-anak perempuan.
“Menikahkan anak di bawah umur sama saja menjerumuskannya ke jurang penderitaan. Ini bukan soal cinta, ini soal tanggung jawab!” seru TGB.
Ia juga mengkritik keras budaya “merariq” yang mulai kehilangan arah. Tradisi yang dulu bermakna keberanian dan keseriusan, kini justru sering dijadikan alat pembenaran kawin lari tanpa kesiapan mental dan fisik.
Ketua Majelis Dakwah PB NWDI, Dr. TGH. Abdul Aziz Husnuddu’at, menegaskan bahwa pihaknya akan memimpin gerakan perubahan ini. Bukan hanya dari mimbar, tapi lewat kaderisasi yang kuat dan struktur dakwah yang kokoh.
“Majelis Dakwah siap jadi benteng. Kita akan hasilkan dai yang tak hanya lantang, tapi juga berpikir, solutif, dan punya nyali melawan kebatilan,” ujar TGH Abdul Aziz.
Acara yang bertepatan dengan 4 Dzulhijjah 1446 H itu sekaligus menjadi bagian dari penggemblengan kader dakwah NWDI se-NTB. Fokusnya: memperkuat akidah, menajamkan akal, dan memurnikan niat.
(*/porosLombok)
















