Menyeruput Kopi, Menyerap Nuansa Ubud di Peraja Coffee Loyok

(PorosLombok.com) – Hamparan sawah hijau terhampar sejauh mata memandang. Semilir angin membawa aroma tanah basah yang berpadu dengan wangi kopi hangat.

Di tengah suasana pedesaan itu berdiri sebuah kafe sederhana bernama Peraja Coffee, destinasi wisata baru di Dusun Ajan, Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur.

Sekilas, atmosfernya mengingatkan pada pedesaan Ubud di Bali. Bedanya, Peraja Coffee menawarkan lanskap khas Lombok Timur yang alami, sekaligus menyatu dengan kearifan lokal Desa Loyok yang sejak lama dikenal sebagai pusat kerajinan anyaman bambu.

M Isnaini, pendiri sekaligus pengelola Peraja Coffee, bercerita bahwa perjalanan membangun kafe ini dimulai pada 2019. Ia ingin menghadirkan ruang wisata baru yang bisa melengkapi potensi desa.

“Awalnya hanya ada berugak bambu untuk kumpul-kumpul dengan teman-teman pemuda. Dari situlah muncul ide agar tempat ini bisa berkembang menjadi destinasi,” ujar Isnaini saat ditemui di kediamannya, Sabtu (23/08).

Nama “Peraja” sendiri diambil dari singkatan Persatuan Remaja Ajan, kelompok pemuda masjid setempat. Isnaini ingin mengabadikan semangat kebersamaan anak muda dalam nama destinasi wisata yang ia bangun.

Isnaini terinspirasi saat Lombok ditetapkan sebagai destinasi wisata halal dan Geopark dunia pada 2018. Ia melihat peluang besar untuk mengangkat potensi Loyok agar tak hanya dikenal lewat kerajinan bambu, tetapi juga pariwisatanya.

Dengan dukungan para pemuda dusun, Peraja Coffee pun dirintis. Tidak ada modal besar, hanya semangat untuk memanfaatkan ruang desa agar bermanfaat lebih luas.

Perlahan, Peraja Coffee berkembang dari sekadar tempat diskusi menjadi ruang wisata yang ramai dikunjungi.

Promosi dilakukan dengan cara sederhana: memanfaatkan media sosial. Foto persawahan hijau, kopi hangat, dan suasana santai diunggah ke internet. Hasilnya, nama Peraja Coffee makin dikenal, bahkan hingga ke luar Pulau Lombok.

“Alhamdulillah, di tahun 2020 banyak pejabat datang berkunjung. Ada Ibu Wakil Gubernur, Bapak Bupati Lombok Timur, dan sejumlah pejabat lainnya,” kata Isnaini.

Kini, manfaat Peraja Coffee mulai dirasakan masyarakat sekitar. Kehadiran kafe ini bukan hanya menghadirkan wisata baru, tetapi juga membuka peluang usaha tambahan.

Isnaini bahkan menyediakan artshop kecil di dalam area Peraja Coffee. Pengunjung bisa membeli kerajinan bambu buatan masyarakat setempat. Dengan begitu, wisatawan tidak hanya menikmati panorama, tetapi juga membawa pulang cendera mata khas Desa Loyok.

“Kita tidak perlu jauh-jauh ke Bali untuk melihat persawahan indah. Di sini juga ada. Dengan Rp 5.000 saja, pengunjung sudah bisa masuk dan menikmati suasananya,” ucap Isnaini.

Tak berhenti di situ, Isnaini menyiapkan rencana pengembangan lebih lanjut. Kini, Peraja Coffee telah memiliki homestay dengan empat kamar yang bisa digunakan wisatawan untuk menginap dan menikmati suasana pedesaan lebih lama.

Selain itu, fasilitas kolam renang juga diperluas. Jika sebelumnya hanya ada satu, kini Peraja Coffee menambah lagi kolam renang baru untuk memberi kenyamanan lebih bagi pengunjung yang ingin berendam sambil menikmati pemandangan sawah.

Meski masih jauh dari kata sempurna, Peraja Coffee tumbuh menjadi ikon baru Desa Loyok. Di tempat ini, secangkir kopi bukan hanya minuman, tetapi juga simbol kebersamaan, kreativitas, dan harapan baru bagi ekonomi masyarakat di kaki timur Pulau Lombok.

(arul/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU