Meniti Jejak Ubud dari Bantaran Sawah Loyok di Timur Lombok

Peraja Coffee di Dusun Ajan hadirkan nuansa Ubud melalui konsep wisata agraris dan pemberdayaan pemuda desa guna mendongkrak ekonomi perajin anyaman bambu di Lombok Timur

PorosLombok.com -Hamparan hijau persawahan di Dusun Ajan, Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Lombok Timur seolah memanggil memori kolektif tentang ketenangan pedesaan yang magis, membawa imajinasi melintasi selat menuju suasana Ubud di Pulau Dewata yang tenang dan memikat hati, Jumat (23/10/2020).

​Lanskap Desa Loyok menyimpan pesona sebagai pemukiman tua yang menjadi jantung kerajinan tangan di Gumi Selaparang. Kehadiran titik kumpul estetik ini menjadi pelengkap narasi besar desa wisata yang dikenal sebagai pusat kreasi anyaman bambu.

​Inisiatif muncul ketika gelombang pariwisata melirik potensi lokal yang autentik berbasis komunitas akar rumput. Sebuah perkumpulan pemuda awalnya hanya sekadar mengisi waktu luang di atas berugak sederhana tanpa menyadari potensi besarnya.

​”Saya bersama teman-teman pemuda awalnya membuat perkumpulan, cuma ada berugak untuk kumpul-kumpul mengisi waktu luang,” tuturnya. Kesederhanaan itulah yang menjadi fondasi kuat bagi ketahanan mental para penggerak pariwisata di Kecamatan Sikur.

​Visi besar mulai disusun untuk menciptakan wadah diskusi yang mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat secara mandiri. M. Isnaini selaku pendiri melihat peluang emas saat daerahnya mulai ditetapkan sebagai destinasi wisata kelas dunia.

​Identitas tempat ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan mengambil akar dari nama besar organisasi remaja masjid setempat. Pemilihan nama tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap persatuan pemuda yang berdedikasi bagi sosial.

​”Nama ini diambil dari nama besar perkumpulan remaja masjid kami yaitu Persatuan Remaja Ajan,” imbuhnya. Strategi ini berhasil menciptakan rasa kepemilikan yang tinggi di antara warga sehingga setiap jengkal tanah yang dikelola dijaga bersama.

​Kekuatan teknologi informasi memainkan peran krusial dalam menyebarkan pesona hamparan sawah ke ruang digital. Foto estetik perpaduan kopi hangat dan latar agraris mulai membanjiri lini masa, mengundang rasa penasaran pelancong luar daerah.

​Popularitas yang menanjak membawa berbagai tokoh penting daerah untuk menginjakkan kaki di tanah Ajan. Kunjungan tersebut menjadi validasi bahwa pariwisata berbasis desa mampu menjadi instrumen efektif dalam pembangunan ekonomi kerakyatan.

​Dampak ekonomi terasa nyata ketika para perajin anyaman bambu mendapatkan ruang khusus untuk memamerkan karya terbaik. Pengunjung tidak hanya pulang membawa kenangan visual, tetapi juga buah tangan hasil keringat para maestro anyaman lokal.

​Filosofi tempat ini sederhana, yakni mendekatkan kemewahan alam yang biasanya berbiaya mahal menjadi murah. Aksesibilitas mudah dan harga merakyat membuat tempat ini menjadi pelarian singkat yang sempurna dari penatnya rutinitas pekerjaan.

​”Kita tidak perlu jauh-jauh untuk menikmati wisata hamparan persawahan yang hijau nan indah,” ujarnya. Pesan ini menegaskan bahwa keindahan serupa destinasi ternama sebenarnya ada di depan mata, tersembunyi di balik lekukan pematang sawah.

​Fasilitas pendukung terus dikembangkan secara bertahap demi memberikan kenyamanan ekstra bagi para pelancong. Sebuah kolam renang di tepian sawah menjadi daya tarik magis, memberikan sensasi mandi di alam terbuka dengan panorama memukau mata.

​Visi jangka panjang diarahkan pada pembangunan penginapan berbasis rumah warga yang terintegrasi dengan pola agraris. Tujuannya mengajak wisatawan merasakan pengalaman hidup sebagai penduduk lokal, mulai dari bertani hingga belajar menganyam.

​Transformasi ini membuktikan bahwa desa tua bukan berarti tertinggal, melainkan simpanan sejarah yang butuh inovasi. Semangat modernitas para pemuda bersinergi apik dengan nilai tradisional yang masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat.

​Keberadaan destinasi ini berfungsi sebagai benteng konservasi lahan produktif agar tidak beralih fungsi menjadi beton. Dengan menjadikan sawah sebagai komoditas wisata, masyarakat terdorong mempertahankan lahan pertanian sebagai aset visual.

​Ritme kehidupan di dusun ini kini jauh lebih dinamis, di mana kreativitas pemuda menjadi mesin penggerak utama. Kolaborasi sektor jasa dan pertanian menciptakan ekosistem mandiri yang diharapkan mampu menekan angka urbanisasi generasi muda.

​Perjalanan meniti keindahan ala Ubud di timur pulau ini terus berlanjut seiring mimpi besar yang dirajut. Di bawah bayang pepohonan kelapa, secangkir kopi hangat tetap menjadi saksi bisu perjuangan pemuda menjaga kedaulatan budaya desa,*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU