Ritual Kayu Jejeneng dan Inan Pade Buka Festival Jeruk Manis Ke 4

Festival Jeruk Manis ke-4 dibuka lewat penyerahan kayu jejeneng dan inan pade. Tradisi Sasak ini digelar guna melestarikan budaya dan mengenalkan pangan lokal ke generasi muda.

PorosLombok.com – Pemerintah Desa Jeruk Manis resmi membuka Festival Jeruk Manis ke-4 dengan menyerahkan simbolis kayu jejeneng dan inan pade di Lapangan Umum Desa Jeruk Manis,Selasa (11/8/2026).

“Hari ini kegiatannya adalah pembukaan Festival Jeruk Manis yang ke-4, diawali dengan penyerahan kayu jejeneng, inan pade, serta penyerahan gegaoq berupa seekor ayam sebagai simbol dimulainya kegiatan,” ujar Kepala Desa Jeruk Manis, Nasipudin.

Penyerahan ritual simbolis tersebut memegang peranan vital sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur Sasak.

“Setiap kita melakukan gawe atau rowah, itu ada namanya kayu jejeneng sebagai inan kayu dan juga inan pade,” terangnya.

Kehadiran kayu jejeneng dan inan pade membawa makna mendalam bagi kelangsungan adat serta keberkahan hasil bumi masyarakat.

“Hari kemerdekaan ini sebagai momentum kita, bukan hanya tentang memeriahkan kemerdekaan itu, tapi kita merangkaikannya juga dengan budaya,” tegasnya.

Pihak desa menegaskan bahwa pilar utama festival ini difokuskan pada penguatan identitas tradisi melalui penyerahan dua simbol adat tersebut.

“Di samping kita memeriahkan Hari Kemerdekaan, karena ini hari gawe nasional, maka kita awali dengan kegiatan adat,” terangnya.

Prosesi sakral penyerahan kayu jejeneng dan inan pade disaksikan langsung oleh pejabat daerah yang hadir.

“Diterima langsung oleh Bapak Sekda yang epe gawe, yang sebenarnya menerimanya itu Pak Bupati, tapi Pak Bupati lagi ada kesibukan maka diwakilkan kepada Bapak Sekda,” ungkapnya.

Rangkaian ritual adat penyerahan simbolis ini memikat perhatian wisatawan asing yang berkunjung ke desa wisata.

“Banyak juga bule-bule yang hadir mengikuti kegiatan, baik itu kegiatan pawainya, kegiatan penyerahan kayu jejeneng-nya, dan juga kegiatan UMKM-nya,” bebernya.

Selain prosesi kayu jejeneng dan inan pade, pameran kuliner tradisional turut melengkapi kemeriahan pesta budaya ini.

“Tujuannya salah satunya memperkenalkan panganan-panganan lokal kepada generasi muda yang nota benenya sudah terpapar banyak makanan fast food,” katanya.

Para tokoh penting daerah memberi apresiasi tinggi atas konsistensi warga dalam menjaga keberadaan simbol-simbol adat Sasak.

“Dihadiri langsung oleh Bapak Sekda Lombok Timur, Bapak Kadis Pariwisata, Bapak Camat, Danramil, dan beberapa tamu dari lembaga-lembaga yang lain,” tandasnya.

Ritual penyerahan kayu jejeneng dan inan pade menjadi bukti komitmen desa dalam melestarikan warisan budaya untuk generasi mendatang.

“Inti poin tujuannya adalah dari hasil bumi kami bertujuan untuk mengedukasi dan memperkenalkan panganan-panganan lokal, di satu sisi kami ingin memulai suatu kegiatan gawe nasional ini dengan budaya,” pungkasnya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU