POROSLOMBOK.COM, LOTENG-
Savana Bale Tepak, Savana yang berada di tengah perkotaan Kota Praya ini memang sempat menjadi perhatian di media sosial. Lokasinya yang dekat dengan sirkuit Mandalika dan Bandara Internasional Zainudin Abdul Majid (BIZAM) membuatnya menjadi lokasi tepat menikmati Savana tampa harus ke bukit.
Sebagai informasi, untuk sampai ke lokasi Savana Bale Tepak kita juga melewati Bendungan Batujai yang memang satu lokasi dengan Savana tersebut. Viralnya lokasi ini membuat segelintir masyarakat yang ada di sekitaran bendungan Batujai berbondong-bondong membuka objek wisata serupa tapi tak sama.
Namun dalam promosinya, tak jarang Savana Baru ini mengatas namakan Savana Bale Tepak. Hal ini lah yang menjadi satu perhatian pengelola Savana Bale Tepak, Akbar Tanjung.
Karena ia menilai dengan banyaknya Savana yang mengatas namakan Savana Bale Tepak, membuat wisatawan justru berpikir gambaran yang di lihatnya di sana justru di nilainya Savana Bale Tepak.
“Kita tercoreng dengan Savana KW ini, konsep awal Savana Bale Tepak sendiri kan memang Natural tetap kita jaga kebersihan, bahkan untuk sekedar berjualan di Savana Bale Tepak kita tak membolehkan ke dalam,” ucap kepada awak media, Jumat (09/09)
Namun kata dia, berbeda dengan Savana KW ini, padahal sebelumnya sudah ada perjanjian dari pihak Balai Wilayah Sungai (BWS), dimana ada tiga poin yang menjadi kesepakatan bersama, yakni tidak boleh masuk motor, tidak boleh ada yang berjualan, dan tetap jaga kebersihan.
Lebih lebih, para Pengelola Savana ini lanjut dia, sering kali mengarahkan para wisatawan yang baru awal ke lokasi untuk supaya ke Savana mereka, tapi yang ia sayangkan wisatawan di arahkan bukan dengan nama Savana mereka melainkan membawa nama Savana Bale Tepak.
“Jadi pengunjung yang melewati jalur mujur yang akan ke Savana Bale Tepak, sudah ada yang menghadang dan memaksa masuk ke Savana mereka dengan nama Savana Bale Tepak,” jelasnya.
Lebih jauh Tanjung menyayangkan prilaku pengelola seperti itu, padahal boleh saja dia membuka, namun tetap dengan nama masing-masing.
“Sangat mengecewakan lah, karena memang kalau mereka ikut-ikutan jangan di hadang, pihak BWS sudah tau juga kalau mereka tidak menjaga kebersihan,” tuturnya.
Adapun Savana yang di buka setelah Savana Bale Tepak Viral diantaranya, Savana Proyek, Savana Sunset Peseng, Savana Sasake, Savana Pacuan Kuda, dan Savana Paradise.
“Total ada 5 Savana yang di buka, namun seringkali dalam promosi mereka mengatas namakan Savana Bale Tepak,” jelasnya.
Namun dari ke lima Savana yang ada yang sudah mulai merapat dan bergabung dengan Savana Bale Tepak yakni Savana Proyek.
“Yang gabung sama kami ini Savana Proyek, dimana yang kami tekankan adalah fokus mengenai kebersihan, dan juga tak membolehkan adanya kendaraan yang masuk ber lalu lalang, karena jikalau tak dijaga akan berpengaruh juga nanti dengan kualitas Savananya,” jelasnya.
Lebih jauh Tanjung mengharapkan semua pihak yang ingin membangun objek wisata baru agar membuka dengan semestinya. Lebih-lebih dia juga menyayangkan perlakuan dari Pemerintah Daerah (Pemda) Lombok Tengah yang dirasanya lebih memperhatikan Savana baru ini dari pada Savana Bale Tepak yang lebih awal viral.
“Kita savana yang original malah tidak di lirik sama pemerintah kabupaten, malah savana yg ikut-ikutan yg di lirik sama Bupati, sangat miris,” katanya.
Padahal seharusnya lanjut dia, Bupati paling tidak berterimakasih kepada pemuda yang bisa memberi peluang msyarakat utk kemaslahatan perekonomiannya, namun sayang sekali Savana Bale Tepak justru malah tidak di lirik.
(Red)


















