Lombok Timur, PorosLombok.com – Mentari siang memancar terik di langit Sembalun. Di bawah naungan pohon-pohon muda yang baru ditanam, Ustaz Zamroni Al-Hussaeni duduk tenang di atas kursi kayu.
Di hadapannya, Gunung Rinjani membentang megah. Angkuh namun menenangkan, berdiri kokoh di balik hamparan sawah yang menghijau. Hari itu, Minggu (20/04), seolah alam sengaja membuka tirainya.
“Dari sini saya bisa lihat Rinjani dengan jelas. Rasanya seperti sedang disapa langsung oleh ciptaan Tuhan,” ucapnya, membuka percakapan. Pandangannya tak lepas dari puncak gunung yang menjadi ikon Nusa Tenggara Barat itu.
Ia tidak beranjak. Tak berjalan mengelilingi taman wisata miliknya. Cukup duduk—dan dari tempat itu, ia bisa menyaksikan denyut kehidupan yang perlahan tumbuh di Taman Surga Rinjani, destinasi yang ia sebut sebagai pertemuan antara rekreasi dan dakwah.
“Taman ini kami rancang sebagai tempat wisata halal. Tidak ada minuman keras, tidak ada hal yang melanggar syariat,” ujarnya mantap.
Taman Surga Rinjani bukan sekadar tempat bermain. Ia adalah ruang perenungan. Tak ada musik keras. Tak ada dekorasi artifisial berlebihan. Spot-spot foto hadir dalam kesederhanaan, menyatu dengan alam. Suasananya tenang, damai, dan menjaga kekhusyukan.
“Kami ingin keluarga yang datang bisa menikmati wisata, tapi tetap menjaga nilai-nilai agama,” tutur Zamroni.
Sebagai Staf Khusus Bupati Lombok Timur Bidang Investasi, ia tahu betul potensi besar wisata halal di daerahnya. Lombok, sebagai Negeri Seribu Masjid, punya modal spiritual dan kultural yang istimewa untuk mengembangkan destinasi yang bukan hanya indah, tetapi juga mendidik jiwa.
“Kami ingin hadirkan konsep berlibur yang sekaligus mendekatkan diri kepada Tuhan,” katanya.
Zamroni tak ingin wisata hanya jadi konsumsi visual. Ia ingin taman ini jadi jembatan spiritual—tempat orang bisa tertawa bersama keluarga, sambil mengingat Sang Pencipta. “Berwisatalah, tapi jangan tinggalkan nilai-nilai Islam,” tambahnya.
Dengan konsep itu, taman ini mulai menjadi magnet baru. Puluhan pengunjung datang setiap hari. Ada yang membawa keluarga, ada pula yang sekadar ingin duduk diam, menyerap angin dan kedamaian alam.
“Yang datang ada yang senang suasana tenang, ada yang hanya ingin berfoto. Semua kami layani dengan pendekatan Islami,” ucap Zamroni.
Lebih dari itu, Taman Surga Rinjani telah menjadi penggerak ekonomi lokal. Hampir 50 warga sekitar kini menggantungkan hidup di sini—sebagai petugas tiket, penjaga kebun, hingga pengelola wahana. Semua berasal dari lingkungan terdekat.
“Kalau ada 10 taman seperti ini, kita bisa buka 500 lapangan kerja. Itu mimpi saya,” kata Zamroni, menghela napas panjang.
Dampaknya menjalar ke luar pagar taman. Warung kecil hidup kembali. Pedagang asongan, penjual sayur, hingga pemilik homestay mulai merasakan berkahnya. “Ini taman, tapi juga alat untuk menggerakkan ekonomi,” ujarnya.
Namun bagi Zamroni, taman ini lebih dari sekadar proyek ekonomi. Ia adalah ladang dakwah. Tempat menyenangkan yang tetap berjalan di rel keagamaan. Tak ada ruang bagi kebebasan tanpa batas.
“Kalau ada yang cari wisata bebas sebebas-bebasnya, ini bukan tempatnya,” katanya dengan nada lembut namun tegas.
Baginya, taman ini adalah cita-cita yang ditanam dengan keyakinan: tentang wisata yang tak kehilangan arah. Tentang hiburan yang tak mengikis iman. Tentang masa depan pariwisata Lombok yang tak hanya elok dipandang, tapi juga mulia di hati.
“Insya Allah, dari taman kecil ini akan lahir generasi yang cinta alam dan cinta agama,” tuturnya pelan, sebelum kembali menatap Rinjani—yang kokoh seperti penjaga sunyi taman yang dibangun dengan ketulusan.
(Arul / PorosLombok)















