LOTIM | POROSLOMBOK –
Banyaknya kasus penolakan rujukan pasien persalinan yang terjadi dibeberapa Desa di Kabupaten Lombok, merupakan sebuah kekhawatiran karena hal tersebut akan berdampak kepada kematian ibu dan bayinya.
Maka dari itu Kepala Seksi (KASI) Kesehatan Keluarga Pada Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur dr. Maizar Rahman harapkan kesadaran dan peran serta kepala Desa untuk tetap memberikan pemahaman kepada masyarakatnya.
“Masyarakat harus faham dengan resiko jika tidak mau dirujuk, dan kepala Desa Juga harus aktif mengedukasi masyarakat,” ucapnya kepada poroslombok saat ditemui diruang kerjanya pada senin (20/12)

Dijelaskan Maizar, ada beberapa kasus pasien persalinan yang terjadi di beberapa Fasilitas Kesehatan (Faskes) salah satunya Puskesmas Sambelia, ada salah seorang warga Labuan Pandan sambelia yang tidak mau dirujuk
dengan alasan karena suami di kalimantan dan gak ada yg nunggu anak.
Padahal jelas Maizar Umur ibu tersebut sudah resiko tinggi (Resti) sehingga tidak mungkin bisa melahirkan di puskesmas karena letak janin dalam kandungan dalam posisi melintang.
Sampai saat ini sambung dia ibu tersebut sudah lewat waktu melahirkan namun pasien masih dirumah harusnya segera dirujuk untuk keselamatan ibu dan janinnya.
“Pihak Puskesmas dan Desa sudah turun tangan, tapi yang bersangkutan belum mau durujuk” tandasnya
Lebih lanjut kata Maizar pihaknya sudah berupaya semaksimal mungkin, untuk menurunkan angka kematian Ibu dan bayi (KIB) di Lombok Timur, jika hal ini terus terjadi maka program Pemerintah untuk menekan angka tersebut akan sulit.
Padahal Pemerintah sudah berupaya semaksimal mungkin untuk membantu masyarkat, terbukti dengan dibentuknya tim Aksi Cepat Sayang Ibu dan Anak (Acsia). Yang di SK kan langsung oleh Bupati Lombok Timur yang beranggotan Lintas Sektoral (Linsek) yakni camat, Desa, TNI/POLRI, Pkk, Toga, Toma dan Puskesmas.
“Intinya kesadaran masyarakat jangan sampai ketika ada kejadian yang tidak diingankan nanti Puskesmas yang disalahkan,”ujarnya
(Arul)
















