PorosLombok.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur mencatat lonjakan tajam grafik penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang mencapai ribuan pasien sepanjang triwulan pertama pada Sabtu (4/4/2026).
Fenomena medis ini mendominasi laporan kesehatan masyarakat di berbagai puskesmas sejak Januari hingga Maret tahun ini. Data lapangan menunjukkan tren peningkatan yang konsisten akibat pengaruh faktor eksternal lingkungan yang tidak menentu.
“Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur mencatat jumlah kasus penyakit infeksi saluran pernapasan akut sebanyak 1.000 sampai 1.500 kasus,” ujar Kepala Bidang P3KL Dikes Lotim, Syahid Ramadhan.
Selaras dengan hal itu, Syahid menjelaskan bahwa akumulasi angka tersebut dihitung berdasarkan laporan mingguan yang masuk ke sistem surveilans kesehatan daerah. Skala penyebaran penyakit ini sudah menyentuh level yang membutuhkan atensi khusus.
“Salah satu penyebab penyakit ISPA karena peralihan cuaca yang berdampak terhadap penurunan daya tahan tubuh anak,” katanya.
Lebih lanjut, fase pancaroba yang sedang melanda wilayah NTB menjadi pemicu utama rapuhnya imunitas tubuh manusia. Perubahan suhu yang drastis menciptakan ruang bagi virus dan bakteri untuk berkembang biak lebih cepat dari biasanya.
Faktor Cuaca Ekstrem Picu Penurunan Daya Tahan Tubuh Anak
Kelompok usia dini tercatat sebagai korban terbanyak yang terpaksa menjalani perawatan medis akibat gangguan pernapasan ini. Kondisi fisik anak yang belum stabil membuat mereka sulit beradaptasi dengan cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini.
Syahid memaparkan bahwa gejala klinis yang sering muncul pada pasien meliputi batuk berdahak, pilek, nyeri tenggorokan hebat, hingga demam tinggi. Orang tua diminta tidak meremehkan tanda-tanda awal tersebut demi mencegah komplikasi paru.
“Kami mengimbau kepada orang tua untuk selalu menjaga dan memperhatikan kondisi anak agar tidak memburuk,” jelasnya.
Sesuai dengan protokol kesehatan, pemberian nutrisi seimbang dan istirahat yang cukup menjadi langkah proteksi paling mendasar bagi buah hati. Pemenuhan cairan tubuh juga sangat krusial untuk menjaga stabilitas suhu badan saat menghadapi infeksi.
Instansi terkait mewajibkan para wali murid memastikan anak-anak mereka sudah mendapatkan akses imunisasi dasar secara lengkap. Vaksinasi menjadi benteng pertahanan terakhir yang paling efektif dalam meminimalisir risiko fatalitas akibat serangan penyakit menular.
“Pastikan anak mendapat imunisasi serta membiasakannya untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” pungkasnya.*
















