Antisipasi Kebakaran Musim Kemarau Damkarmat Lombok Timur Petakan Sumber Air

Antisipasi kemarau, Damkarmat Lombok Timur percepat pemetaan sumber air untuk regulasi bupati. Di tengah efisiensi anggaran dan keterbatasan pos, edukasi mitigasi ke sekolah terus digencarkan.

PorosLombok.com – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Lombok Timur mempercepat pemetaan lokasi mata air potensial di berbagai wilayah rawan guna mengantisipasi ancaman bencana kebakaran pemukiman menjelang puncak musim kemarau pada Jumat (26/6/2026).

“Menjelang musim panas ini kita mendata sumber-sumber air yang nantinya akan menjadi peraturan bupati,” ujar Kepala Dinas Damkarmat Lombok Timur Widayat.

Widayat yang akrab disapa Mas Wid ini menjelaskan bahwa legalitas regulasi daerah tersebut sangat mendesak agar penanganan suplai pasokan air saat kondisi darurat memiliki payung hukum yang jelas serta mengikat bagi seluruh pihak.

“Edukasi tiap hari jalan saya ke sekolah-sekolah memperkenalkan penanganan awal,” katanya.

Langkah preventif berupa sosialisasi mitigasi sejak dini ini sengaja menyasar klaster pendidikan demi menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menghadapi risiko amukan api skala kecil.

“Sekarang kan musim efisiensi anggaran, jadi kita mendudukkan tupoksi sebenarnya, ” ujarnya.

Pihak manajemen melakukan penataan ulang pembagian tugas operasional agar fungsi pembersihan taman kota atau penebangan pohon diserahkan sepenuhnya kepada dinas mitra demi menghemat pengeluaran kas daerah.

“Saat ini unit manajemen kebakaran baru terbentuk di lima wilayah kecamatan,” jelasnya.

Keterbatasan pos komando pembantu di lapangan membuat instansi harus bekerja ekstra keras melayani aduan darurat dari dua puluh satu kecamatan yang tersebar luas di seluruh wilayah administrasi.

“Mudah-mudahan di tahun dua ribu dua puluh tujuh kita dilengkapi dengan armada yang memadai,” katanya.

Pengadaan kendaraan pemadam modern serta pemenuhan alat pelindung diri menjadi prioritas pengusulan anggaran berikutnya demi menjamin keselamatan para personel lapangan yang bertaruh nyawa.

“Kita utamakan adalah keselamatan dari petugas yang bertugas itu sendiri dulu,” ujarnya.

Standardisasi pakaian berupa alat pelindung Diri ( APD) penyelamatan baik untuk penanganan kebakaran berupa baju antipanas dan non kebakaran terus dievaluasi kelayakannya agar tidak menimbulkan kecelakaan kerja yang fatal saat tim melakukan evakuasi penyelamatan di medan yang ekstrem.

“Setiap bulan ada semacam pelatihan dan simulasi di kantor untuk meningkatkan keterampilan,” jelasnya.

Peningkatan kapasitas personel melalui simulasi penyelematan baik penjinakan satwa liar dan teknik pemadaman modern diyakini akan mampu menjaga ritme kesiapsiagaan tim reaksi cepat selama dua puluh empat jam penuh.

“Kami mengimbau warga cerdas untuk mematikan kompor dan tidak sembarangan membakar rumput kering,” pungkasnya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU