PorosLombok.com – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lombok Timur memastikan seluruh organ dalam hewan kurban di wilayah tersebut bebas dari penularan wabah antraks dan infeksi cacing hati.
Pemeriksaan klinis secara masif ini sengaja dilakukan demi menjamin keamanan bahan pangan yang akan dikonsumsi oleh masyarakat luas. Petugas teknis disebar ke puluhan titik pemotongan guna memeriksa kondisi fisik komoditas ternak.
“Hasil pemantauan menunjukkan limpa dan hati sapi dalam kondisi sangat sehat,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner Drh Hultatang, Sabtu (30/5/2026).
Hultatang menjelaskan bahwa indikasi penyakit sistemik yang mematikan sama sekali tidak terdeteksi oleh tim medis selama proses penyembelihan berlangsung. Kondisi ini membuat status kelayakan konsumsi daging berada pada level aman.
Seluruh Unit Pelaksana Teknis Puskeswan di tingkat kecamatan bergerak serentak melakukan pengawasan sejak pagi hari. Langkah taktis ini berhasil memetakan status kesehatan mamalia secara akurat di setiap zonasi ekologis.
“Kami langsung mengarantina ternak jika menemukan gejala klinis yang mencurigakan,” katanya.
Ia mengonfirmasi bahwa pengetatan pengawasan juga menyasar pada potensi parasit cacing yang kerap bersarang di organ hati sapi kurus. Fenomena gangguan pencernaan tersebut biasanya bersumber dari pola manajemen pakan yang buruk.
Beruntung, potret buruk tersebut tidak ditemukan pada momentum perayaan hari besar keagamaan kali ini. Kualitas struktur daging yang dihasilkan para peternak lokal dinilai telah memenuhi standar mutu veteriner nasional.
“Bagian hati yang rusak atau mengeras akan segera kami eliminasi,” jelasnya.
Tindakan pemotongan dan pembuangan organ cacat menjadi prosidur wajib demi mengantisipasi hal-hal yang merugikan konsumen. Meski demikian, masyarakat diimbau tidak panik karena jenis parasit tersebut terbukti tidak dapat menular ke manusia.
Sebaliknya, proteksi maksimal justru diarahkan pada spora bakteri antraks pada limpa yang memiliki tingkat risiko fatalitas sangat tinggi. Sinergi lintas sektor di lapangan terbukti ampuh membentengi rantai pasok makanan publik.
“Dinas terkait terus menjaga kenyamanan warga dalam mengonsumsi produk hewani,” pungkasnya.*















