Jalan Sunyi Dusun Sangiang Tinggalkan Miras Tradisional

"Dengan sabar dan tanpa kekerasan, Dusun Sangiang meninggalkan brem demi masa depan yang lebih bersih dan bermartabat."

(PorosLombok.com)-Di antara kebun kelapa dan deretan bambu tua, Dusun Sangiang berdiri diam seperti menyimpan rahasia masa lalu.Di balik keheningannya, pernah menggelegak produksi brem, minuman keras tradisional yang lahir dari fermentasi ketan dan berkadar alkohol tinggi.

Kini, yang tersisa hanya aroma samar dan ingatan pahit tentang botol-botol yang dulu menjadi tumpuan hidup sekaligus sumber luka.

Dulu, brem tak sekadar minuman. Ia adalah denyut ekonomi, budaya, bahkan identitas. Hampir setiap rumah di Sangiang menyimpan alat penyulingan, dan anak-anak tumbuh dengan menganggap botol kaca sebagai bagian dari pemandangan sehari-hari.

Tapi kemakmuran semu itu datang dengan harga: kekerasan dalam rumah tangga, anak putus sekolah, dan warga yang mabuk hingga dini hari.

Perubahan datang tanpa dentang. Tak ada operasi besar, tak ada sweeping aparat. Yang datang hanya seorang tokoh kampung bernama Amaq Muhammad, dengan suara rendah dan pendekatan yang lebih menyerupai seorang sahabat ketimbang juru dakwah.

.“Kalau dilarang, mereka melawan. Kalau didekati, mereka malu,” katanya, tersenyum tipis kepada PorosLombok, Senin (9/6).

Alih-alih ceramah atau ancaman, Amaq membawa rokok dan obrolan ringan. Ia nongkrong bersama pemuda-pemuda pemabuk, ikut menyanyi saat karaoke, tertawa di antara mereka.

Di tengah hingar bingar itu, ia menanam benih rasa: bahwa mereka pantas hidup lebih baik. Tak ada bentakan. Hanya tatapan penuh harap.

Strategi itu berhasil. Satu per satu pemuda mulai menjauh dari botol. Mereka tak nyaman lagi minum di depan orang tua yang tak menghakimi. Mereka mulai merasa malu, bukan karena takut, tapi karena sadar. Dan ketika konsumsi menurun, produksi pun ikut surut.

Para pembuat brem tak lagi panen uang. Mereka mulai rugi, pasarnya menghilang pelan-pelan. Namun Amaq tidak membiarkan mereka terpuruk. Ia membuka pintu-pintu alternatif: bertani, beternak, menjadi buruh panen. Aktivitas baru itu perlahan menggantikan kegilaan malam yang dulu rutin terjadi.

Ladang yang dulu dianggap pekerjaan kelas dua, kini kembali digarap. Kambing yang dulu cuma peliharaan sambilan, kini jadi sumber penghidupan.

“Kami bentuk kelompok. Begabah, peternak, buruh tani. Pelan-pelan mereka melihat hasilnya,” ujar Muhammad.

Dusun yang dulu ditakuti karena mabuk dan keributan, kini mulai dipandang sebagai dusun yang bangkit. Para pemuda mulai pulang dalam keadaan sadar, para ibu mulai berani menegur, dan para anak bisa tidur tanpa suara teriakan.

Perubahan itu bukan hanya ekonomi, tapi juga spiritual. Pesantren yang semula sepi, kini ramai. Majelis pengajian rutin digelar. Hiziban malam Jumat kembali menggema dari masjid ke rumah-rumah. Para tuan guru tak lagi berdiri di luar pagar, tapi berada di tengah gelanggang perubahan.

Amaq melibatkan mereka secara langsung. Mereka diundang menjadi khatib, guru mengaji, dan pengarah moral.

“Kami tidak menyuruh. Kami mengajak. Dan itu lebih didengar,” katanya. Dusun ini tak memerangi miras dengan hukum, tapi dengan kehormatan.

Tamu-tamu dari luar yang biasa membeli brem pun tak lagi leluasa. Warga sepakat membatasi jam kunjungan mereka. Jika biasanya datang malam, kini hanya boleh pagi. Waktu yang tidak mereka suka. Maka, mereka pun perlahan menjauh.

Brem masih diproduksi, tapi hanya saat hajatan adat. Produksi tak lagi bebas, tak lagi dipamerkan. Warga sudah tahu batas. Tradisi dijaga, tapi tidak dilestarikan secara membabi buta.

“Bukan kami membuang budaya. Kami sedang menyaring warisan,” ujarnya.

Data terakhir mencatat, dari sekitar 180 pembuat brem pada 2019, kini tinggal 30. Dan itu pun hanya aktif musiman. Beberapa bahkan menjual alat penyulingan mereka, sebagai tanda telah menutup babak lama.

Generasi muda adalah bukti paling sahih bahwa perubahan telah datang. Beberapa kini bekerja di Bali dan Sumbawa. Sebagian melanjutkan kuliah, kembali sebagai guru, bukan pengangguran.

“Mereka punya pilihan sekarang,” kata Amaq, bangga.

Dunia digital ikut membuka cakrawala. Ponsel pintar dan akses internet memperkenalkan mereka pada cara hidup lain. Mereka mengenal konten edukatif, belajar bertani organik, bahkan berdagang online. Jalan keluar tak lagi bergantung pada botol.

Namun jalan sunyi ini belum tuntas. Masih ada yang bertahan dalam kebiasaan lama. Masih ada sisa-sisa fermentasi di sudut dusun. Tapi warga tak lagi menganggap mereka musuh. Mereka adalah bagian dari keluarga yang sedang menyusul.

Dusun Sangiang mengajarkan bahwa perubahan tak selalu harus ribut. Ia bisa datang dalam bentuk obrolan di beranda, dalam nyanyian malam, atau dalam sebungkus rokok yang ditawarkan tanpa syarat. Jalan sunyi ini penuh luka, tapi juga penuh harapan.

Dan barangkali, di tengah hiruk-pikuk tuntutan modernisasi, inilah cara paling manusiawi untuk berubah: perlahan, sadar, dan dari dalam. Di Sangiang, revolusi tak datang lewat pengeras suara. Ia datang dari hati ke hati.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU