(PorosLombok.com) – Inisiatif Kepala Desa Jeruk Manis, Nasipudin, membuahkan hasil. Lewat upaya mandiri dan pendekatan langsung, Desa Jeruk Manis berhasil menggaet program pemberdayaan ekonomi dari Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN yang kini mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat.
Nasipudin menceritakan, program YBM PLN mulai masuk ke Desa Jeruk Manis pada Januari 2025. Ketertarikannya bermula saat ia mencari informasi secara mandiri melalui internet terkait kinerja dan pola pendampingan YBM PLN.
“Saya cari tahu sendiri, bagaimana cara kerja YBM PLN dan seperti apa pendampingannya. Setelah itu saya telusuri kantor terdekat, ternyata ada di Mataram. Dari situ kami ajukan proposal,” kata Nasipudin.
Program tersebut kemudian menyasar berbagai kelompok masyarakat. Mulai dari pelaku UMKM, pedagang kecil, guru honorer, guru ngaji, hingga anak-anak muda yang bergerak di sektor pariwisata desa.
Untuk pelaku UMKM, YBM PLN memberikan modal usaha sebesar Rp 7 juta hingga Rp 7,5 juta per unit usaha. Namun, bantuan itu tidak dilepas begitu saja. Penerima tetap mendapatkan pendampingan, terutama dalam pengelolaan usaha dan pencatatan keuangan.
“Usaha mereka dipantau. Kalau berkembang, ada apresiasi lanjutan. Ada yang mendapat tambahan modal sampai Rp 10 juta bahkan Rp 15 juta,” ujarnya.
Selain UMKM, YBM PLN juga menjalankan program Muslimah Tangguh yang menyasar perempuan kepala keluarga. Di Desa Jeruk Manis, program ini diikuti oleh 62 orang perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga karena suaminya sakit atau tidak mampu bekerja.
Dalam program ini, peserta menerima modal usaha sebesar Rp 2,5 juta. Dana tersebut tidak boleh dihabiskan, melainkan wajib diputar sebagai modal usaha.
“Ini bukan disebut bantuan, tapi apresiasi. Mereka dinilai mampu bertahan di kondisi sulit, sehingga diberikan modal agar bisa terus hidup dari usaha,” jelas Nasipudin.
Ia menambahkan, penyerapan dana program sebenarnya tidak dibatasi. Namun pada tahun pertama, kendala pendataan membuat Desa Jeruk Manis baru mampu menyerap anggaran sekitar Rp 700 juta.
“Ke depan target kami bisa menyerap antara Rp 1 sampai Rp 2 miliar,” katanya.
Meski baru berjalan sekitar satu tahun, Nasipudin menilai program YBM PLN sudah membawa perubahan terhadap ekonomi warga. Ia menyebut pendekatan pendampingan dan seleksi penerima menjadi kunci agar bantuan benar-benar tepat sasaran.
Terkait penerima manfaat, desa bertugas mengusulkan data, sementara verifikasi dilakukan oleh pendamping YBM PLN. Penilaian tidak hanya melihat kondisi ekonomi, tetapi juga mental dan semangat warga untuk berkembang.
“Kalau sudah dibantu tapi usahanya malah mundur, itu tidak akan dibantu lagi. Yang dilihat itu kemauan untuk maju,” tegas Nasipudin.
(Arul/PorosLombok)















